Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) membantah klaim pengamat sepak bola Indonesia, Justinus Lhaksana, mengenai timnas Malaysia yang sedang dihukum oleh FIFA. Dalam podcast 'Bukan Bincang Sepak Bola Biasa' bersama Helmy Yahya, Justinus menyebut bahwa timnas Malaysia mendapat sanksi dari FIFA hingga 2027 karena diduga memanipulasi aturan naturalisasi pemain dengan "silsilah palsu". Tuduhan ini mencuat setelah Malaysia memperkuat timnas seniornya dengan pemain naturalisasi asal Amerika Selatan, seperti Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, Jon Irazabal, Joao Figueiredo, dan Facundo Garces, yang turut bermain saat mengalahkan Vietnam 4-0 dalam Kualifikasi Piala Asia 2027 pada Juni 2025.
Baca juga: Skor Sementara Filipina vs Brunei Darussalam 1-0: Filipina Unggul Berkat Penalti
Selain itu, Justinus juga mengklaim bahwa timnas Malaysia U-23 bisa bermain di Piala AFF U-23 2025 yang sedang berlangsung di Indonesia, karena turnamen tersebut tidak diakui FIFA, sehingga Malaysia U-23 tetap dapat berpartisipasi meskipun isu hukum terkait naturalisasi masih bergulir.
Namun, Sekretaris Jenderal AFC, Datuk Seri Windsor Paul, menanggapi klaim tersebut dengan tegas, memastikan bahwa tidak ada hukuman FIFA untuk timnas Malaysia. Windsor menyatakan bahwa hingga saat ini, AFC belum menerima informasi resmi mengenai sanksi atau skorsing terhadap Malaysia, dan masalah tersebut berada langsung di bawah yurisdiksi FIFA. Ia juga menegaskan bahwa jika ada sanksi atau skorsing, Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) akan menjadi pihak pertama yang menerima pemberitahuan resmi dari FIFA.
Hingga kini, pihak FAM belum memberikan pernyataan resmi terkait klaim ini. Meskipun demikian, rumor tersebut muncul di tengah keputusan FAM untuk menarik timnas Malaysia dari Piala CAFA 2025, yang sebelumnya dijadwalkan di Tajikistan. Keputusan pembatalan ini mengejutkan, mengingat Piala CAFA memberikan kesempatan kepada Malaysia untuk bertanding melawan tim-tim kuat seperti Iran dan Uzbekistan.
Terkait isu tersebut, banyak yang menunggu klarifikasi lebih lanjut dari FAM maupun FIFA untuk menjernihkan situasi.
Penulis: Kayla Maharani