Dmitry Kozak Dorong Perundingan Damai
Seorang pejabat tinggi Kremlin, Dmitry Kozak, yang menjabat sebagai Wakil Kepala Administrasi Presiden Vladimir Putin, dikabarkan meminta Putin untuk menghentikan perang di Ukraina dan memulai dialog damai.
Kabar ini muncul dari laporan The New York Times pada 10 Agustus 2025, hanya beberapa hari sebelum pertemuan bersejarah antara Presiden AS Donald Trump dan Putin di Alaska pada 15 Agustus. Pertemuan ini kemungkinan menjadi dialog tatap muka pertama keduanya sejak Trump kembali menjabat.
Gedung Putih bahkan disebut tengah mempertimbangkan untuk mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di hari yang sama.
baca juga : Pembangunan IKN Dikabarkan Mandek, Ini Fakta Sebenarnya yang Diungkap Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono
Kozak, Pejabat Kremlin yang Menentang Perang
Kozak, yang dikenal sebagai sekutu lama Putin, disebut sebagai salah satu dari sedikit pejabat inti Rusia yang secara pribadi menolak invasi. Ia dilaporkan mengajukan rencana penghentian pertempuran, disertai usulan reformasi internal, termasuk peningkatan pengawasan terhadap badan keamanan dan pembentukan sistem peradilan independen.
Bahkan sebelum invasi besar-besaran pada 2022, Kozak sudah memperingatkan Putin tentang kemungkinan perlawanan sengit dari Ukraina dan sempat mencoba menegosiasikan gencatan senjata di awal perang — meski upaya itu gagal.
Pengaruh Meredup di Lingkaran Putin
Meskipun pernah memegang peran penting dalam urusan Ukraina, pengaruh Kozak kini dikabarkan berkurang, dengan Sergei Kirienko mengambil alih pengelolaan wilayah pendudukan. Sikap Kozak yang menentang perang dianggap langka di lingkaran inti Putin, meski ia selalu menyampaikannya secara tertutup.
Beberapa pejabat Barat mengungkapkan bahwa Kozak masih melakukan komunikasi informal dengan pihak asing untuk mencari cara membujuk Putin. Namun, dengan sikap keras Putin dan dominasi aparat keamanan di Moskow, peluang keberhasilan Kozak dinilai sangat kecil.
Tuntutan Putin untuk Gencatan Senjata
Putin sendiri tetap menolak gencatan senjata tanpa syarat. Ia bersikeras agar Ukraina membatalkan rencana bergabung dengan NATO dan menarik pasukannya dari wilayah yang kini diduduki Rusia, termasuk Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kherson.
Tuntutan ini kembali mencuat dalam pembicaraan damai di Istanbul pada Mei dan Juli lalu, yang keduanya berakhir tanpa hasil.
Usulan Trump dan Penolakan Zelensky
Dalam pernyataan terbarunya, Trump menyebut dirinya dan Putin akan membahas proposal gencatan senjata yang berisi pemberian wilayah timur Ukraina kepada Rusia. Namun, Presiden Ukraina Zelensky menolak keras rencana tersebut, memperingatkan bahwa kesepakatan itu hanya akan memberi Moskow waktu untuk memperkuat posisi sebelum melancarkan serangan baru.
penulis : elsandria Aurora