Serma Kristian Namo Desak Hukuman Berat untuk Pelaku Penganiayaan
Serma Kristian Namo, ayah dari Prada Lucky Cepril Saputra Namo yang meninggal dunia setelah dianiaya senior TNI AD, menuntut keadilan tuntas atas kasus tersebut. Ia meminta agar seluruh pelaku diberikan hukuman mati sebagai efek jera agar tragedi serupa tidak terulang.
"Saya minta keadilan, semoga semua pelaku dihukum mati agar tidak ada lagi korban seperti anak saya. Anak tentara saja dibunuh, apalagi yang lainnya," tegas Kristian saat ditemui di kamar jenazah Rumah Sakit Wirasakti, Kupang, NTT, Kamis (7/8).
baca juga: Dampak Rebalancing MSCI terhadap IHSG: Netral atau Menimbulkan Gejolak?
Kristian Siap Pasang Taruhan Nyawa Demi Keadilan
Sebagai prajurit TNI, Kristian menyatakan akan terus memperjuangkan keadilan bagi anaknya meski dengan risiko nyawanya sendiri. Ia menegaskan tidak takut menghadapi siapapun demi kebenaran.
"Saya tidak akan diam, siapapun pelakunya akan saya tuntut. Keadilan harus ditegakkan, nyawa saya taruhannya," ujar Kristian penuh emosi.
Kronologi Singkat Prada Lucky: Prajurit Muda Baru Dua Bulan Bertugas
Prada Lucky yang baru menjalani masa dinas selama dua bulan sejak lulus pendidikan TNI di Mei 2025, ditempatkan di Batalyon Teritorial Pembangunan 834 Waka Nga Mere di Nagekeo, NTT. Ia meninggal dunia setelah mengalami penganiayaan serius yang menyebabkan trauma berat.
Paman Lucky, Rafael David, menjelaskan Lucky merupakan tulang punggung keluarga dan anak kedua dari empat bersaudara.
baca juga: Wakil Rektor Teknokrat Mahathir Muhammad, Di Balik Layar Reuni Akbar
Penyelidikan Polisi Militer TNI Sedang Berlangsung
Mayor Inf. I Gusti Komang Surya Negara, Kepala Penerangan Resort Militer 161 Wirasakti Kupang, menyatakan kasus ini masih dalam proses penyelidikan oleh Polisi Militer Angkatan Darat.
"Kasus ini sedang ditangani dan diselidiki oleh Polisi Militer. Mohon waktu untuk proses selanjutnya," ujar Surya Negara melalui pesan singkat.
Penulis: Dena Triana