Logo Universitas Teknokrat Indonesia

'Anak muda Papua sulit dapat pekerjaan, bahkan jika lulus dari luar negeri' – Pencoblosan pilkada ulang di Papua, bisakah beri harapan untuk warga?

Gambar untuk 'Anak muda Papua sulit dapat pekerjaan, bahkan jika lulus dari luar negeri' – Pencoblosan pilkada ulang di Papua, bisakah beri harapan untuk warga?

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Provinsi Papua kembali digelar pada Rabu (6/8/2025), dengan pemungutan suara ulang (PSU) di 2.023 TPS yang tersebar di sembilan kabupaten dan kota. PSU ini diharapkan dapat membawa perubahan signifikan, khususnya dalam memperbaiki kondisi ketenagakerjaan di daerah tersebut, yang semakin sulit dihadapi oleh para lulusan perguruan tinggi, baik yang berpendidikan dalam negeri maupun luar negeri.

baca Juga:Timnas Indonesia Punya Sponsor Apparel Baru: Tetap Erspo atau Ada Nama Baru?

Penyebab Kesulitan Anak Muda Papua Dalam Mencari Pekerjaan

Beberapa anak muda Papua seperti Rachel Mansawan dan Lovery Elsword berbagi pengalaman pahit tentang kesulitan yang mereka hadapi dalam mencari pekerjaan meski telah menyelesaikan pendidikan di luar negeri.

Rachel Mansawan: Lulusan Luar Negeri Sulit Cari Kerja

Rachel Mansawan, 24 tahun, yang lulus dari Aviation Australia di Brisbane, mengungkapkan bahwa meskipun ia memperoleh beasiswa Otonomi Khusus (Otsus) Papua dan mengenyam pendidikan luar negeri, dirinya kesulitan mencari pekerjaan sesuai bidangnya di Papua. Salah satu tantangan utama adalah proses penyetaraan ijazah yang rumit dan memakan waktu.

"Penyetaraan ijazah hanya bisa dilakukan di Jakarta atau Bali. Di Papua belum ada. Prosesnya bisa memakan waktu enam bulan hingga setahun," ujar Rachel.

Selain itu, diskriminasi gender juga menjadi hambatan, di mana posisi teknisi pesawat lebih sering diberikan kepada laki-laki.

Lovery Elsword: Pengalaman Dokter Muda Papua

Lovery Elsword, seorang dokter muda lulusan China, juga menghadapi masalah yang serupa. Proses penyetaraan ijazah kedokteran yang rumit dan terbatasnya fasilitas kesehatan di Papua menjadi tantangan yang menghambatnya untuk segera berkarier di tanah kelahirannya.

"Berkarier di luar negeri seperti di Singapura atau Malaysia bagi kami yang lulusan luar negeri justru lebih mudah. Tapi ketika kembali ke Indonesia, prosesnya lebih panjang," kata Lovery.

Tantangan Ketenagakerjaan di Papua: Pengangguran Mencapai Titik Kritis

Provinsi Papua menempati posisi kedua dengan tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia, mencapai 6,48%. Menurut Prof. Dr. Avelinus Lefaan, seorang pakar sosiologi Universitas Cenderawasih, tantangan ketenagakerjaan di Papua sudah mencapai titik kritis. Setiap tahun, banyak sarjana Papua yang kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang mereka, terutama di sektor ilmu sosial dan biologi.

"Jumlah lulusan sarjana terus bertambah, namun lapangan pekerjaan tidak berkembang sebanding," ujar Lefaan.

Kondisi ini bisa memicu frustrasi sosial dan berisiko tinggi menambah ketegangan di kalangan pemuda Papua.

baca Juga:Rektor UTI mendapatkan ucapan Selamat dari Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) RI

Harapan Terhadap Pemimpin Baru Papua

Rachel dan Lovery berharap pemimpin baru Papua dapat lebih peka terhadap masalah ketenagakerjaan ini dan menciptakan peluang kerja yang lebih adil bagi anak-anak muda Papua, baik yang memiliki gelar dalam negeri maupun luar negeri.

"Saya harap ada sistem yang lebih adil, bukan cuma lihat gelar, tapi juga kemampuan dan pengetahuan," tegas Rachel.

Menurut mereka, pemimpin yang jujur dan bekerja dengan rendah hati bisa membawa perubahan nyata bagi tanah Papua.

penulis:Dafa Aditya.f