Logo Universitas Teknokrat Indonesia

Analisis Psikologis: Mengapa Daniel Sancho Memotong Mayat Edwin Arrieta?

Kategori: Other
Gambar untuk Analisis Psikologis: Mengapa Daniel Sancho Memotong Mayat Edwin Arrieta?

Kasus pembunuhan Edwin Arrieta yang melibatkan Daniel Sancho masih menjadi perbincangan hangat. Setelah pengadilan memvonis Sancho dengan hukuman penjara seumur hidup, pengacara keluarga Arrieta kini menanggapi banding yang diajukan oleh tim pembela Sancho. Namun, banyak yang bertanya-tanya mengenai motivasi psikologis di balik kejahatan brutal ini, termasuk tindakan memutilasi tubuh Arrieta. Psikolog forensik José Capote memberikan analisis mendalam mengenai perilaku Sancho dalam wawancaranya dengan El Debate.

Baca juga: 25 Penumpang Cedera pada Penerbangan Delta yang Dialihkan ke MSP Setelah Mengalami Turbulensi Parah

1. Profil Kasus: Pembunuhan dan Mutilasi oleh Daniel Sancho

Pada 5 Agustus 2023, Daniel Sancho ditangkap di Koh Phangan, Thailand, setelah membunuh dan memutilasi pasangannya, Edwin Arrieta. Sancho mengklaim bahwa ia bertindak untuk membela diri setelah mengalami penyerangan seksual. "Dia menyandera saya, memaksa saya untuk menghancurkan hubungan saya, dan melakukan hal-hal yang tidak akan pernah saya lakukan," kata Sancho setelah penangkapan.

Diadili pada musim semi 2024, Sancho dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Meskipun terhindar dari hukuman mati berkat pengakuannya dan kerja samanya, ia harus membayar kompensasi sebesar €106.000 kepada keluarga Arrieta. Namun, pertanyaan besar tetap muncul: Mengapa Sancho memilih untuk memotong mayat Arrieta?

2. Tindakan Brutal: Memotong Mayat Sebagai Tanda Rasa Takut dan Perencanaan

Menurut José Capote, memotong dan menyembunyikan jenazah merupakan tindakan yang hanya dilakukan oleh para pembunuh yang merasa takut untuk menghadapi akibat hukum. "Pemotongan jenazah dilakukan ketika pelaku menyadari bahwa mereka tidak bisa lolos dari hukuman. Rasa takut memaksa mereka untuk mengambil langkah-langkah drastis," jelas Capote.

3. Peran Profesi Daniel Sancho: Priming dan Tindakan Mutilasi

Sancho, yang berprofesi sebagai juru masak, memiliki pengalaman bertahun-tahun menggunakan pisau dalam kegiatan profesionalnya. Capote menyoroti fenomena psikologis yang disebut priming, di mana pengalaman tertentu memengaruhi cara seseorang bertindak di kemudian hari. “Sebagai juru masak, Sancho terbiasa dengan pisau, dan kemungkinan besar ia merasa lebih mudah untuk memutilasi tubuh Arrieta dengan alat yang sering ia gunakan dalam pekerjaannya," ujar Capote.

4. Apakah Daniel Sancho Seorang Psikopat?

Meskipun perbuatan brutal Sancho, banyak yang bertanya-tanya apakah ia seorang psikopat. Capote menjelaskan bahwa meskipun tindakan-tindakan seperti pembunuhan dan mutilasi tubuh dapat mengindikasikan psikopati, itu tidak cukup untuk menyimpulkan hal tersebut. Psikopati adalah diagnosis yang sangat kompleks dan hanya dapat ditentukan melalui analisis mendalam terhadap perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

“Meskipun Sancho tampak tidak memiliki empati dan melakukan tindakan kekerasan yang luar biasa, kita perlu menganalisis interaksinya dengan masyarakat dan melakukan tes lebih lanjut untuk memastikan diagnosis psikopat," jelas Capote.

Baca juga: Wisuda Universitas Teknokrat 2025 Diwarnai Orasi Mahasiswa Bertema Perubahan Karakter Pemuda di Era Digital

5. Langkah Hukum Berikutnya: Banding dan Persidangan Ulang

Setelah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, Daniel Sancho dan pengacaranya mengajukan banding terhadap keputusan tersebut, dengan harapan mendapatkan persidangan ulang. Jika banding diterima, kasus ini bisa berlanjut hingga ke Mahkamah Agung Thailand, memperpanjang perjalanan hukum yang penuh ketegangan ini.

Juango Ospina, pengacara keluarga Arrieta, mengkritik banding tersebut dan menyatakan bahwa pernyataan dari tim pembela Sancho hanya menambah kesedihan dan kecemasan bagi keluarga Arrieta. “Keluarga kami masih dalam proses berduka, dan pernyataan-pernyataan yang tidak sensitif semakin memperburuk keadaan,” ungkap Ospina dalam konferensi pers.

penulis: Fiska Anggraini