Musisi senior Ari Lasso tengah meluapkan kekecewaannya terhadap kinerja salah satu lembaga pengelola royalti musik. Melalui unggahan di media sosial, mantan vokalis Dewa 19 itu menyoroti kesalahan pencatatan dan penyaluran royalti yang menurutnya tidak profesional dan merugikan para musisi.
Baca juga:Perpustakaan Modern: Teknologi yang Mempermudah Pengguna dan Pustakawan
Nama yang Muncul Bukan Ari Lasso, Tapi Mutholah Rizal
Dalam unggahannya, Ari mengungkap bahwa laporan royalti atas nama dirinya justru dikirim ke rekening atas nama Mutholah Rizal, bukan ke dirinya sendiri. Hal ini membuatnya mempertanyakan transparansi dan akurasi data dari lembaga terkait.
“Kekonyolan yang paling hebat adalah Anda transfer ke rekening 'Mutholah Rizal'. Hitungan di laporan Ari Lasso itu punya saya atau Pak Mutholah Rizal? Atau itu memang hitungan saya tapi WAMI salah transfer?” tulisnya.
Ari Lasso: Ada Kelemahan Manajemen yang Bisa Merugikan Musisi
Tak hanya menyoroti soal kesalahan transfer, Ari juga menyinggung bahwa kejadian ini mencerminkan manajemen yang lemah dan perlu diperbaiki. Ia bahkan menilai bahwa jika sistem ini dibiarkan, maka berpotensi merugikan banyak pihak, termasuk negara.
“Sebuah lembaga dengan manajemen yang (maaf) sangat buruk, berpotensi merugikan negara—dalam hal ini Dirjen Pajak—dan pasti merugikan banyak musisi anggota Anda.” lanjut Ari.
Perlu Audit dan Pengawasan dari Lembaga Negara
Dalam curahan hatinya, Ari Lasso juga meminta agar lembaga-lembaga negara seperti BPK, KPK, atau Bareskrim turut melakukan pemeriksaan terhadap lembaga pengelola royalti seperti WAMI (Wahana Musik Indonesia). Bukan untuk menghukum, melainkan agar lembaga ini bisa menjadi lebih kredibel dan bertanggung jawab terhadap anggotanya.
“Banyak 'permainan' atau kecerobohan yang layak diperiksa lembaga negara… agar @wami.id menjadi lembaga yang kredibel.”
Dampak Terhadap Pencipta Lagu dan Musisi
Kesalahan pengelolaan seperti yang dialami Ari Lasso tentu bisa berdampak besar terhadap para musisi dan pencipta lagu yang bergantung pada royalti sebagai salah satu sumber penghasilan utama mereka. Ketika sistem pengelolaan tidak transparan atau terjadi kelalaian administratif, bukan hanya reputasi lembaga yang dipertaruhkan, tapi juga nasib banyak seniman musik Tanah Air.
Baca juga:Rektor IPB University Arif Satria Puji Digital Smart Composter Inovasi Tim Dosen-Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia
Penutup: Harapan untuk Transparansi dan Profesionalisme
Ungkapan kekecewaan Ari Lasso bisa menjadi pemantik diskusi yang lebih luas tentang perlunya reformasi dan pembenahan sistem royalti musik di Indonesia. Dalam era digital seperti sekarang, akuntabilitas dan transparansi lembaga pengelola hak cipta bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Sebagai musisi dengan jam terbang tinggi dan kontribusi besar di industri musik, suara Ari Lasso patut didengar sebagai peringatan agar lembaga seperti WAMI menjalankan tugasnya dengan lebih profesional, adil, dan tepat sasaran.
Penulis:Zaskia amelia