Harga Bitcoin Turun Tajam Usai Sentuh Rekor Tertinggi
Harga Bitcoin kembali mengalami koreksi menjelang rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Selasa pagi (26/8/2025), Bitcoin berada di kisaran 109.700 dollar AS atau sekitar Rp 1,81 miliar, terkoreksi hampir 5 persen dalam 24 jam terakhir.
Penurunan ini terjadi setelah reli yang sempat membawa Bitcoin menembus 123.000 dollar AS (Rp 2,03 miliar) pada pertengahan Agustus. Nasib serupa dialami Ethereum yang merosot ke level 4.400 dollar AS (Rp 72,6 juta), padahal sehari sebelumnya sempat berada di atas 5.000 dollar AS (Rp 82,5 juta).
baca juga:Ini Tuntutan Demo 28 Agustus dari Partai Buruh dan Serikat Pekerja
Pasar Saham AS Bergerak Hati-Hati
Selain kripto, pasar saham Amerika Serikat juga menunjukkan sikap waspada.
- Indeks S&P 500 ditutup turun 0,43 persen ke 6.439,32
- Dow Jones melemah 0,77 persen ke 45.282,47
- Nasdaq terkoreksi tipis 0,22 persen, ditopang saham teknologi besar
Kondisi ini mencerminkan investor yang memilih menunggu kepastian dari rilis data inflasi PCE, indikator penting bagi arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Apa Kata Analis Soal Prospek Bitcoin?
Menurut Fahmi Almuttaqin, Analyst Reku, pasar kripto saat ini berada dalam fase wait and see. Inflasi yang lebih rendah dari perkiraan bisa menjadi pemicu reli baru, dengan target jangka pendek di level 120.000 dollar AS hingga 136.000 dollar AS.
Namun, jika inflasi masih tinggi, Bitcoin berpotensi jatuh lebih dalam ke zona support di kisaran 100.000–103.000 dollar AS. Meski begitu, Fahmi menegaskan tren jangka panjang Bitcoin tetap bullish, karena cepat atau lambat kebijakan ekonomi akan lebih longgar, memberi dorongan likuiditas ke pasar kripto.
Bagaimana Ekspektasi Terhadap Kebijakan The Fed?
Optimisme investor juga dipengaruhi oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada September 2025. Probabilitas pemangkasan masih bertahan di atas 85 persen, menurut data CME FedWatch.
Bahkan, lembaga keuangan global seperti Jefferies menaikkan target akhir tahun indeks S&P 500 menjadi 6.600 poin. Namun bayang-bayang inflasi yang tetap tinggi membuat pasar tetap waspada.
Prediksi Data Inflasi PCE Juli 2025
Data PCE bulan Juli diperkirakan naik 0,2–0,3 persen secara bulanan. Jika angka tersebut sesuai ekspektasi, hal ini memberi sinyal kuat bagi The Fed untuk mulai menurunkan suku bunga.
Fahmi menambahkan, jika inflasi lebih rendah dari perkiraan, Bitcoin bisa rebound tajam dan Wall Street berpeluang mencetak rekor baru. Sebaliknya, jika inflasi lebih tinggi, pasar kripto dan saham bisa kembali tertekan.
Kesimpulan: Pasar Global Menahan Nafas
Baik pasar kripto maupun pasar saham kini berada pada posisi menahan nafas menjelang rilis data inflasi PCE AS. Keputusan The Fed nantinya akan menjadi faktor penentu arah pergerakan Bitcoin, Ethereum, hingga indeks saham besar seperti S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq.
penulis:elsandria aurora