Logo Universitas Teknokrat Indonesia

Buku Harian Aulia Risma Dibacakan Jaksa, 'Satu Semester Aku Berjuang di Sini, Terlalu Berat Untukku'

Gambar untuk Buku Harian Aulia Risma Dibacakan Jaksa, 'Satu Semester Aku Berjuang di Sini, Terlalu Berat Untukku'

Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Semarang pada Rabu (6/8/2025), Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan isi buku harian almarhumah Aulia Risma Lestari, mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Universitas Diponegoro (Undip). Buku harian tersebut menjadi bukti yang menggambarkan betapa beratnya perjuangan yang dialami Aulia selama menjalani pendidikan di PPDS Anestesi Undip. Aulia, yang ditemukan meninggal di kamar kosnya pada 12 Agustus 2024, menuliskan curahan hati dalam diarinya yang dipenuhi rasa sakit dan kelelahan.

baca Juga:Regulasi Pemain Asing di BRI Super League 2025/2026: Kualitas vs Pemain Lokal

Isi Buku Harian Aulia Risma yang Mengungkap Rasa Lelah dan Kelelahan Mental
Dalam sidang tersebut, JPU membacakan cuplikan isi buku harian Aulia Risma yang menunjukkan betapa ia merasa tertekan dan lelah dengan kondisi pendidikan yang dijalaninya. Salah satu bagian yang dibacakan adalah:

"Aku tidak bisa sendiri tanpamu. Aku sangat lemah. Aku sebegitu rapuhnya. Aku tidak menanggung semuanya sendiri," yang menggambarkan rasa terpuruk Aulia saat itu.

Aulia Risma melanjutkan tulisannya dengan mengungkapkan betapa beratnya perjalanan yang harus dijalaninya. "Mas tahu, jalannya masih sangat panjang. Mas tahu, ini sangat berat buatku," tulisnya dalam diari tersebut.

Perasaan Sakit dan Ketidakmampuan untuk Menahan Beban
Di dalam diarinya, Aulia Risma juga menulis tentang rasa sakit yang ia alami setiap hari. "Aku sakit, aku sakit dipandang sebelah mata setiap hari. Aku sakit tidak dilihat, tidak disapa, padahal aku berdiri di depannya," ungkapnya dalam catatannya. Ia juga mengungkapkan keinginannya untuk diperlakukan sebagai manusia, dengan lebih banyak perhatian dan penghargaan.

Salah satu bagian yang menyentuh adalah ketika Aulia menulis tentang rasa sakit fisik yang ia rasakan. "Punggungku selalu kesakitan, tapi aku tidak mau dikasihani. Orang lain pun tidak peduli. Aku yang menahan sakitnya," tulisnya, menggambarkan betapa ia berjuang sendirian tanpa dukungan yang memadai.

Harapan Aulia Risma dan Pesan Terakhir dalam Buku Harian
Aulia Risma kemudian menulis tentang harapannya dan kesedihannya. "Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi dengan berurai mata. Kalau nanti aku tidak ada, maafkan perbuatanku selama ini. Aku sayang sama kamu. Maafkan aku," ungkapnya dalam kata-kata yang menyentuh hati. Ia juga menuliskan harapannya untuk hidup sebagai manusia biasa dan melepaskan rasa sakit yang terus mengikutinya.

Isi diari terakhir Aulia yang dibacakan pada sidang tertanggal 5 Juni 2024 menunjukkan rasa putus asa yang mendalam. "Satu semester aku berjuang di sini, terlalu berat untukku. Sakit sekali, beban fisiknya terlalu besar. Aku ingin berhenti," tulisnya, yang kemudian diikuti dengan pertanyaan tentang apakah Tuhan mengerti penderitaannya.

baca Juga:Universitas Teknokrat Indonesia Resmi Kukuhkan Wisudawan, LLDIKTI Dorong Jadi Generasi Profesional dan Mandiri

Perundungan dan Pemerasan yang Menimpa Aulia Risma
Kasus ini terungkap setelah meninggalnya Aulia Risma, yang akhirnya memicu laporan dari keluarga korban ke Polda Jawa Tengah pada 4 September 2024. Kementerian Kesehatan juga terlibat dengan menghentikan sementara kegiatan praktik PPDS Anestesi di RSUP Dr. Kariadi, Semarang. Dalam proses hukum yang sedang berlangsung, ada tiga terdakwa yang dihadirkan dalam kasus dugaan perundungan dan pemerasan terhadap Aulia Risma: Taufik Eko Nugroho (mantan ketua Prodi PPDS Anestesi FK Undip), Sri Maryani (staf administrasi Prodi Anestesiologi FK Undip), dan Zara Yupita Azra (senior Aulia Risma).

penulis:Dafa Aditya.f