Citra satelit dari Google Earth menunjukkan aktivitas pertambangan yang terjadi di Sungai Palangki, tepatnya di belakang Kantor Bupati Sijunjung, Sumatera Barat. Warga Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, menyatakan bahwa aktivitas tambang di daerah tersebut adalah penyebab utama keruhnya air Sungai Kuantan yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat setempat.
Baca juga : Prediksi Skor Santos vs Juventude 5 Agustus 2025: Head to Head, Daftar Cedera, dan Susunan Pemain
Aktivitas Tambang di Hulu Sungai Kuantan
Putra, seorang warga Kuansing, menjelaskan bahwa pertambangan ilegal (PETI) yang marak di Sungai Batang Palangki dan daerah sekitar Sijunjung berkontribusi pada keruhnya air Sungai Kuantan yang mengalir hingga ke wilayah mereka. "Dari Google Earth bisa kita lihat, begitu banyak tambang di Sungai Batang Palangki, sungai ini bermuara ke Sungai Kuantan. Itu penyebab air Kuantan keruh," ujarnya, Minggu (3/8/2025).
Citra Satelit Menunjukkan Perubahan Kondisi Sungai
Citra satelit Google juga menangkap perubahan signifikan pada kondisi muara Sungai Palangki. Di mana, pertemuan antara Sungai Palangki dan Sungai Ombilin/Kuantan terlihat sangat keruh, menunjukkan dampak dari aktivitas pertambangan yang tidak terkendali. "Menurut saya, kalau kita ingin air Sungai Kuantan ini jernih seperti semula, operasi PETI harus dilakukan secara menyeluruh, jangan hanya di Kuansing saja, tapi juga di Sijunjung," tambah Putra.
Dukungan Masyarakat untuk Operasi PETI
Masyarakat Kuansing sangat mendukung Operasi PETI yang digelar oleh Polda Riau. Operasi ini bertujuan untuk memberantas kegiatan penambangan ilegal yang selama ini merusak ekosistem dan lingkungan. "Semoga, setelah operasi ini, tidak ada lagi PETI. Kita rindu Sungai Kuantan yang jernih, sungai yang menjadi pusat peradaban," harap Putra.
baca juga : "Cara Mengoptimalkan LAN untuk Jaringan Rumah Anda"
Tujuan Operasi PETI
Operasi PETI ini diadakan selama dua minggu dengan sasaran utama adalah menghentikan praktik tambang ilegal yang semakin berkembang di wilayah tersebut. Diharapkan, dengan berkurangnya aktivitas pertambangan, Sungai Kuantan bisa kembali jernih, terutama menjelang pelaksanaan festival pacu jalur yang menjadi kebanggaan masyarakat Kuansing.
Penulis : Dina eka anggraini