Logo Universitas Teknokrat Indonesia

COBOL: Bahasa Kuno yang Masih Bikin Dunia Berputar

Kategori: Teknologi
Gambar untuk COBOL: Bahasa Kuno yang Masih Bikin Dunia Berputar

Saat mendengar kata COBOL, mungkin yang terbayang di benakmu adalah teknologi kuno, mesin-mesin besar dari era 60-an, atau sesuatu yang sudah usang dan ditinggalkan. Di dunia yang dipenuhi bahasa-bahasa pemrograman modern seperti Python, JavaScript, atau Java, COBOL seakan hanyut dalam sejarah. Tapi, tahukah kamu? Bahasa pemrograman ini masih hidup, bernapas, dan menjadi tulang punggung dari banyak sistem penting yang menggerakkan dunia kita setiap harinya.

COBOL, kependekan dari COmmon Business-Oriented Language, pertama kali diciptakan pada tahun 1959. Sejak saat itu, ia menjadi standar industri untuk aplikasi bisnis, terutama di sektor perbankan, keuangan, dan pemerintahan. Meskipun umurnya sudah lebih dari enam dekade, COBOL tidak pernah benar-benar mati. Justru sebaliknya, ia terus bekerja di balik layar, mengurus triliunan transaksi setiap harinya, mulai dari penarikan tunai di ATM, transfer antar bank, hingga pembayaran pensiun dan asuransi.

baca juga:UNO: Mengubah Tagihan Listrik jadi Lebih Hemat dan Cerdas


Sejarah Singkat dan Kenapa COBOL Diciptakan

COBOL tidak lahir dari garasi seorang programmer jenius, melainkan dari sebuah konsensus. Pada akhir 1950-an, Departemen Pertahanan Amerika Serikat melihat adanya kebutuhan mendesak untuk sebuah bahasa pemrograman yang bisa digunakan untuk memproses data bisnis secara seragam di berbagai jenis komputer. Saat itu, setiap komputer punya bahasa pemrograman sendiri, yang membuat pertukaran data menjadi sangat sulit.

Seorang pioneer di bidang ilmu komputer, Grace Hopper, menjadi salah satu figur kunci dalam pengembangan COBOL. Tujuannya sederhana: membuat bahasa pemrograman yang mudah dibaca dan dipahami, bahkan oleh orang yang tidak punya latar belakang teknis. Itulah kenapa sintaks COBOL dibuat sangat mirip dengan bahasa Inggris. Alih-alih menggunakan simbol dan kode yang rumit, COBOL menggunakan kata-kata seperti MOVE, ADD, SUBTRACT, dan DISPLAY.

Fokus pada keterbacaan ini membuat COBOL sangat cocok untuk aplikasi bisnis yang membutuhkan pemeliharaan jangka panjang. Kode yang ditulis puluhan tahun lalu masih bisa dipahami oleh programmer baru, asalkan mereka tahu aturan dasarnya. Ini adalah salah satu alasan mengapa COBOL tetap relevan hingga sekarang.


Kenapa COBOL Masih Bertahan?

Ini adalah pertanyaan besar yang sering diajukan. Dengan banyaknya bahasa modern yang lebih fleksibel dan efisien, kenapa COBOL tidak digantikan? Jawabannya ada pada skala dan keandalan.

1. Keandalan dan Stabilitas: Sistem yang dibangun dengan COBOL terkenal sangat andal. Mereka dirancang untuk memproses data dalam jumlah besar (disebut batch processing) dengan akurasi yang hampir sempurna. Bayangkan sistem perbankan yang harus memproses jutaan transaksi setiap hari. Sedikit saja kesalahan bisa menimbulkan kerugian besar. COBOL terbukti mampu menangani tugas ini dengan sempurna selama puluhan tahun.

2. Skala dan Volume Data: Sekitar 80% dari transaksi bisnis di dunia, termasuk di sektor keuangan dan perbankan, masih diproses oleh sistem berbasis COBOL. Jumlah baris kode COBOL yang ada di seluruh dunia diperkirakan mencapai 220 miliar baris. Mengganti semua kode ini bukan hanya butuh waktu yang sangat lama, tapi juga biaya yang luar biasa mahal dan risiko yang sangat tinggi.

3. Kurva Pembelajaran yang Mudah: Meskipun terkesan kuno, COBOL sebenarnya relatif mudah dipelajari, terutama bagi orang yang terbiasa dengan bahasa Inggris. Sintaks yang deskriptif membuatnya tidak sekompleks bahasa-bahasa lain. Hal ini membuat transisi bagi programmer baru menjadi lebih mudah.


Tantangan dan Masa Depan COBOL

Meskipun masih berjaya, COBOL menghadapi tantangan besar. Salah satu yang paling utama adalah kelangkaan programmer COBOL. Sebagian besar programmer COBOL yang andal adalah veteran yang usianya sudah lanjut. Anak muda zaman sekarang cenderung lebih tertarik pada bahasa-bahasa modern yang lebih populer dan menjanjikan, seperti Python atau JavaScript.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran yang disebut sebagai "krisis COBOL." Saat pandemi COVID-19 melanda, beberapa negara bagian di Amerika Serikat bahkan sempat kesulitan memproses klaim asuransi pengangguran karena sistemnya yang masih menggunakan COBOL, sementara tidak ada cukup programmer untuk memodifikasinya.

Namun, industri tidak tinggal diam. Banyak perusahaan teknologi dan penyedia layanan mainframe (komputer besar yang sering menjalankan COBOL) mulai berinvestasi dalam pelatihan dan alat modernisasi. Mereka mengembangkan alat yang bisa membantu programmer baru belajar COBOL lebih cepat, serta alat yang bisa mengintegrasikan sistem COBOL lama dengan teknologi baru, seperti cloud atau mobile app.

baca juga:Teknokrat Jalin Kolaborasi Internasional Bersama IIUM Malaysia dalam International Collaborative Visiting Lecture 2025


Peluang Emas untuk Programmer Muda

Di tengah kelangkaan ini, justru muncul peluang emas. Permintaan akan programmer COBOL yang terampil sangat tinggi, sementara suplai sangat terbatas. Perusahaan-perusahaan besar, terutama di sektor perbankan dan asuransi, siap membayar mahal untuk programmer yang bisa memelihara dan memodifikasi sistem legacy mereka.

Jadi, jangan remehkan COBOL. Di balik namanya yang terdengar kuno, ada stabilitas finansial dan karier yang menjanjikan. Belajar COBOL bukan berarti kamu harus meninggalkan bahasa modern. Sebaliknya, kemampuan ini akan menjadi nilai tambah yang sangat unik dan dibutuhkan. Kamu bisa menjadi jembatan antara teknologi lama yang andal dan teknologi baru yang inovatif.

COBOL adalah bukti nyata bahwa di dunia teknologi, "tua" tidak selalu berarti "usang." Kadang, "tua" berarti "teruji," "andal," dan "penting." Jadi, lain kali kamu melakukan transaksi digital, ingatlah bahwa di balik layar, ada sebuah bahasa kuno yang masih bekerja keras, memastikan dunia kita terus berputar dengan lancar.

penulis:Anis puspita sari