Timnas Indonesia U-23 tampil dominan sepanjang gelaran Piala AFF U-23 2025, terutama dalam hal penguasaan bola. Namun, dominasi itu sayangnya belum mampu berbuah hasil manis. Di partai final, Garuda Muda harus takluk 0-1 dari Vietnam dan kembali gagal meraih trofi yang diimpikan.
Baca juga :Meta menunjuk salah satu pencipta ChatGPT sebagai kepala ilmuwan di Superintelligence Lab
Statistik Dominan, Tapi Minim Peluang
Selama turnamen, Indonesia mencatatkan rata-rata penguasaan bola mencapai 71,2 persen. Ini termasuk penguasaan tertinggi saat menghadapi Brunei Darussalam dengan 86 persen, dalam kemenangan telak 8-0.
Namun, dominasi bola itu tidak selalu sejalan dengan hasil positif. Dalam laga-laga berikutnya, seperti saat melawan Malaysia, Filipina, Thailand, hingga final melawan Vietnam, Indonesia justru kesulitan menciptakan peluang berbahaya. Bahkan dalam partai final, meski unggul 68 persen penguasaan bola, tim besutan Gerald Vanenburg gagal mencetak gol.
Jumlah operan Indonesia mencapai angka fantastis, 3.049 dengan akurasi 89 persen. Tetapi, mayoritas umpan hanya berkutat di lini belakang dan tengah, tanpa progresi yang berarti ke wilayah pertahanan lawan.
Kenapa Dominasi Tidak Berarti Efektif?
Meski menguasai permainan, Indonesia minim peluang karena beberapa hal berikut:
- Minim kreativitas lini tengah: Pemain tengah kesulitan membongkar pertahanan lawan.
- Kurang variasi serangan: Umpan lebih banyak berputar di belakang, bukan progresif ke depan.
- Konversi peluang rendah: Hanya 16 persen peluang yang menjadi gol.
- Taktik lawan efektif: Middle block dan pressing tinggi dari lawan membuat Indonesia kerepotan.
Pelatih Vanenburg sendiri mengakui tidak puas dengan pola permainan yang terlalu sering berkutat di area sendiri. Ia berharap bola bisa lebih cepat dibawa ke depan agar bisa menciptakan lebih banyak peluang.
Apa yang Terjadi di Laga Final Melawan Vietnam?
Pertandingan final melawan Vietnam berlangsung panas dan penuh tensi. Wasit mengeluarkan total enam kartu kuning, empat untuk Vietnam dan dua untuk Indonesia. Ada pula insiden di pinggir lapangan yang menyebabkan staf tim Indonesia mendapat kartu merah.
Kemenangan Vietnam lewat gol tunggal Nguyen Cong Phuong membawa mereka mencetak hat-trick juara Piala AFF U-23, sementara Indonesia harus puas menjadi runner-up.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, sempat mengingatkan agar Timnas bermain keras namun tetap cerdas. Sayangnya, dalam pertandingan ini, emosi beberapa pemain tak terbendung. Dalam beberapa momen, friksi antar pemain memaksa wasit menghentikan jalannya pertandingan.
Apakah Indonesia Bisa Jadi Raja Sepak Bola ASEAN?
Klaim Kapten Timnas U-23, Kadek Arel, bahwa Indonesia adalah calon raja sepak bola ASEAN memang menggugah semangat. Namun, performa di lapangan belum mencerminkan dominasi di kawasan.
Fakta menunjukkan, Indonesia hanya tampil sangat dominan saat menghadapi Brunei Darussalam. Saat melawan negara dengan level lebih tinggi seperti Thailand, Malaysia, atau Vietnam, Garuda Muda belum mampu mengunci kemenangan dengan nyaman.
Tak hanya dari segi permainan, kualitas liga domestik Indonesia juga belum berada di puncak. Saat ini, kompetisi tanah air berada di peringkat keenam di ASEAN, masih kalah dari Thailand, Malaysia, Vietnam, Singapura, dan bahkan Kamboja.
Baca juga :Mahathir Muhammad Sandang Sabuk Hitam Dan 2 Internasional, Unjuk Kebolehan Kata
Apa yang Harus Dilakukan Indonesia untuk Berbenah?
Untuk benar-benar menjadi raja ASEAN, Indonesia perlu perbaikan menyeluruh, bukan hanya mengandalkan semangat atau dominasi statistik semu. Beberapa langkah yang mendesak dilakukan antara lain:
- Pembinaan usia dini yang terstruktur
- Pengembangan kompetisi usia muda yang berkelanjutan
- Peningkatan kualitas pelatih dan fasilitas
- Blueprint sepak bola nasional yang jelas dan terukur
- Evaluasi dan pemanfaatan dana PSSI secara maksimal
Generasi emas seperti Timnas U-19 era Evan Dimas nyaris tak bersisa di level profesional. Agar regenerasi tidak mandek, pembinaan harus menjadi prioritas utama.
Dengan dukungan dana besar dari pemerintah, yakni sekitar Rp 227 miliar per tahun, PSSI harus bisa mengelola sumber daya secara optimal. Ini menjadi kesempatan emas untuk memperkuat pondasi sepak bola Indonesia agar ke depan tidak hanya dominan di atas kertas, tapi juga superior di atas lapangan.
Penulis : Naysila pramuditha azh zahra