Fokus Studi Tiru: Pariwisata Berbasis Alam dan Pelibatan Masyarakat
Dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan pariwisata dan lingkungan hidup, rombongan DPRD Kabupaten Siak melaksanakan studi tiru ke Kabupaten Badung, Bali. Salah satu lokasi yang menjadi fokus kunjungan adalah Daerah Tujuan Wisata (DTW) Sangeh, kawasan hutan tropis yang sukses dikembangkan sebagai destinasi berbasis konservasi dan budaya lokal.
Kunjungan ini melibatkan pembelajaran langsung dari Dinas Pariwisata dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Badung, yang dinilai berhasil menerapkan inovasi di sektor pariwisata dan pengelolaan sampah.
baca juga : Maxloren Castro Dikeluarkan Wasit dalam Laga Alianza Lima vs Sporting Cristal | 5 Agustus 2025
DTW Sangeh: Contoh Sukses Pariwisata Berkelanjutan
DTW Sangeh menjadi perhatian utama karena keberhasilannya menyatukan unsur pelestarian alam, ekonomi desa, dan teknologi digital. Kawasan seluas 13,9 hektare ini dikelola oleh desa adat dan telah memberikan kontribusi besar terhadap Pendapatan Asli Desa (PAD), yang mencapai sekitar Rp22 miliar per tahun.
Keunggulan utama dari pengelolaan DTW Sangeh terletak pada sistem pelaporan digital jumlah pengunjung secara real-time, yang menciptakan transparansi dan akuntabilitas. Selain itu, nilai-nilai lokal melalui konsep SELARAS (Semangat, Lestari, Aktif, Ramah, Santun) terus ditanamkan untuk melibatkan pemuda dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan wisata.
Potensi Siak dan Rencana Implementasi
DPRD Siak melihat banyak kesamaan antara potensi alam yang dimiliki daerahnya, seperti Danau Naga Sakti Zamrud dan Tahura Arwinas, dengan apa yang berhasil dikembangkan di Badung. Namun, keduanya masih membutuhkan pendekatan strategis dalam aspek pengelolaan kawasan, peningkatan kualitas SDM, serta pelibatan masyarakat secara aktif.
Dinas Pariwisata Siak menyatakan keinginan untuk menerapkan konsep yang sama dengan yang diterapkan di Badung, baik dalam hal penataan destinasi, penguatan branding, maupun strategi peningkatan PAD dari sektor pariwisata.
Belajar Pengelolaan Sampah Modern dari Badung
Tak hanya pariwisata, rombongan DPRD juga menyoroti pengelolaan persampahan di Badung yang sudah berbasis teknologi dan partisipatif. Program-program seperti TPS 3R, Bank Sampah, serta inisiatif kreatif seperti Batik (Badung Anti Sampah Plastik) dan Gotik (Gojek Sampah Plastik) dianggap relevan untuk diadopsi di Siak.
Konsep Zero Waste to Landfill yang diterapkan di Badung dianggap sebagai solusi masa depan untuk persoalan sampah, terutama di daerah-daerah yang sedang berkembang. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Siak, Amin Soimin, mengakui kekagumannya atas sistem kebersihan di Badung yang didukung oleh perubahan pola pikir masyarakat.
Harapan DPRD Siak: Bawa Pulang Semangat dan Solusi Baru
Melalui kunjungan ini, DPRD Siak menyatakan komitmennya untuk membawa pulang pembelajaran dan inspirasi baru yang dapat memperkuat kebijakan daerah. Mereka menargetkan peningkatan kualitas destinasi wisata, pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, dan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam pembangunan.
Langkah ini diharapkan tidak hanya berdampak pada peningkatan PAD, tetapi juga membawa manfaat langsung bagi kesejahteraan warga Siak dalam jangka panjang.
penulis : Ginasti kurniasih trifosa