Tokoh
- Pak Darto – Pemilik warung kopi, sudah tua, humoris tapi menyimpan kesedihan.
- Udin – Anak muda pengangguran, suka bercanda, polos.
- Siti – Mahasiswi rajin, suka belajar sambil nongkrong di warung.
- Bowo – Tukang ojek online, kocak, suka banyak gaya.
- Mira – Anak kecil penjual tisu, ceria tapi hidup sederhana.
baca juga:VAD Adalah Singkatan dari Apa? Ini Penjelasan Lengkapnya!
Adegan 1 – Pagi di Warung Kopi
(Pak Darto menata kursi, Udin masuk dengan gaya malas.)
Udin: (ngantuk) Pak, kopinya jangan kental ya, takut jantung saya kaget.
Pak Darto: (ketawa) Jantung aja kaget, apalagi dompetmu yang selalu kosong.
Udin: (nangis pura-pura) Aduh Pak, jangan begitu, saya ini pengangguran terhormat.
(Bowo masuk dengan motor mainan kecil, pura-pura jadi ojek.)
Bowo: Siappp! Orderan nongkrong sudah saya antar!
Siti: (datang sambil bawa buku) Kalian ini ya, dari pagi isinya ketawa-ketawa doang. Belajar tuh!
Udin: Belajar? Saya sudah belajar… belajar ikhlas jadi pengangguran.
(Semua tertawa. Suasana warung hangat.)
Adegan 2 – Canda dan Cerita
(Mereka ngobrol sambil minum kopi.)
Bowo: Pak Darto, katanya dulu warung ini pernah rame banget ya?
Pak Darto: (tersenyum kecil) Iya… dulu sebelum istri saya sakit. Dia yang selalu buat gorengan paling enak.
Siti: (lirih) Istri Bapak sekarang bagaimana?
Pak Darto: (terdiam sejenak, lalu tersenyum paksa) Ah, sudah tenang di alam sana.
(Hening sebentar. Suasana jadi agak sedih. Udin mencoba mencairkan.)
Udin: Eh, gorengan buatan saya enak juga loh. Cuma… biasanya gosong semua.
(Semua tertawa lagi, suasana jadi hangat kembali.)
Adegan 3 – Kedatangan Mira
(Mira masuk membawa tisu kecil, dengan wajah ceria.)
Mira: Tisu, tisu… siapa mau beli tisu? Satu ribu aja, murah loh!
Pak Darto: (menyambut) Sini Mira, duduk dulu. Kamu belum sarapan kan?
Mira: (tertawa kecil) Sudah kok, Pak. Sarapan angin pagi.
Udin: (kaget) Waduh, angin pagi bikin kenyang ya? Saya mau coba juga!
Bowo: Cocok buat diet, Din. Nanti kamu jadi model papan reklame… papan catur maksudnya!
(Semua ketawa, Mira ikut tertawa walau matanya tampak lelah.)
Adegan 4 – Momen Sedih
(Mira batuk kecil, lalu menunduk. Siti melihat dengan khawatir.)
Siti: Mira, kamu kenapa? Sakit ya?
Mira: (pelan) Nggak apa-apa, Kak. Saya cuma pengen bantu Ibu jualan. Kalau nggak, nanti nggak bisa bayar sewa kontrakan.
(Suasana jadi hening. Pak Darto menatap Mira dengan mata berkaca-kaca.)
Pak Darto: (lirih) Dulu anak saya juga seusia kamu, Mira… suka bantu ibunya di sini.
(Pak Darto menunduk. Semua diam. Tiba-tiba Udin berusaha mencairkan suasana.)
Udin: Eh Mira, kalau kamu jualan tisu di sini, aku kasih nama baru deh. “CEO Tisu Internasional”!
Mira: (tertawa kecil) Wah, keren banget! Kalau begitu saya kasih gaji tisu sebulan buat Mas Udin.
(Semua tertawa lagi, suasana jadi ringan walau ada rasa haru.)
Adegan 5 – Kebersamaan
(Hari mulai sore. Semua masih duduk di warung.)
Bowo: Pak Darto, kalau warung ini terus rame, saya rela jadi satpam khusus pengusir nyamuk.
Siti: Aku bisa jadi kasir sambilan, sekalian belajar akuntansi.
Udin: Aku jadi manajer strategi… strategi tidur siang di kursi warung.
(Semua tertawa. Pak Darto tersenyum bahagia melihat kebersamaan itu.)
Pak Darto: Kalian ini memang suka bikin ribut… tapi terima kasih, berkat kalian warung ini nggak pernah sepi lagi.
(Mira berdiri sambil tersenyum, menatap semua dengan mata berbinar.)
Mira: Terima kasih juga ya, Pak… warung ini bikin saya lupa kalau hidup kadang berat.
(Semua terdiam sebentar, lalu tersenyum bersama. Lampu panggung perlahan redup.)
🎭 Durasi: Naskah ini jika dimainkan dengan improvisasi, bisa berjalan sekitar 30 menit.
Ada komedi yang ringan dari karakter Udin & Bowo, tapi juga sentuhan sedih dari cerita Pak Darto dan Mira.
penulis:mudho firudin