Drone buatan Indonesia, Elang Hitam, sukses menjalani uji terbang dengan durasi operasional 24 jam dan mampu menjangkau ketinggian hingga 20.000 kaki. Uji coba ini dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka.
baca juga : PM Anwar Ibrahim Ingatkan Ancaman Fragmentasi ASEAN di Tengah Dunia Terpolarisasi
Dirancang untuk Misi Militer dan Intelijen
Drone Elang Hitam termasuk dalam kategori Medium Altitude Long Endurance (MALE), dirancang khusus untuk menjalankan misi pengintaian, pengawasan wilayah perbatasan, serta operasi militer lainnya.
Menurut Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Mohammad Arif Faisal, drone ini dilengkapi teknologi canggih seperti sistem kendali otomatis dan komunikasi jarak jauh, yang merupakan bagian dari penguasaan teknologi kunci di bidang pertahanan udara.
"Uji terbang ini adalah pembuktian kemampuan Indonesia dalam mendesain dan mengembangkan drone MALE secara mandiri," ujar Arif.
Bisa Pantau Bencana, Cocok untuk Misi Kemanusiaan
Selain untuk keperluan militer, Elang Hitam juga berpotensi digunakan dalam misi kemanusiaan, misalnya untuk pemantauan wilayah terdampak bencana alam atau pencarian korban di medan yang sulit dijangkau.
Selama proses uji terbang, drone Elang Hitam dikawal oleh pesawat Kodiak milik PTDI untuk mengevaluasi performa dan jangkauan daya terbangnya. Arif mengungkapkan bahwa seluruh uji coba berjalan sukses dan lancar.
Bukti Kemandirian Teknologi Pertahanan Indonesia
Keberhasilan uji terbang ini mempertegas eksistensi industri pertahanan dalam negeri yang kian berkembang dan mulai diakui secara global.
"Ini menjadi penanda bahwa Indonesia mampu bersaing dan berdiri sejajar dengan negara maju dalam penguasaan teknologi drone masa depan," kata Arif.
Sejarah Pengembangan Drone Elang Hitam
Pengembangan drone Elang Hitam sudah dimulai sejak tahun 2015. Konsorsium proyek ini resmi terbentuk pada 2017 dan terdiri dari berbagai institusi penting, seperti:
- Kementerian Pertahanan RI
- BPPT (sekarang BRIN)
- TNI Angkatan Udara
- Institut Teknologi Bandung (ITB)
- PT Dirgantara Indonesia
- PT Len Industri
- LAPAN (bergabung tahun 2019)
Awalnya, Elang Hitam ditujukan untuk kepentingan militer. Namun pada 2020, BRIN memutuskan untuk mengalihkan fokus pengembangannya menjadi drone sipil karena beberapa kendala teknis, termasuk kegagalan uji coba di tahun 2021.
baca juga : Mahathir Muhammad Sandang Sabuk Hitam Dan 2 Internasional, Unjuk Kebolehan Kata
Proyek Militer Dilanjutkan Kembali Sejak 2024
Meskipun sempat dialihkan ke versi sipil, proyek drone militer Elang Hitam kembali dilanjutkan berdasarkan keputusan Rapat Pleno KKIP pada Oktober 2024. Kini, PTDI kembali dipercaya sebagai lead integrator dalam proyek pengembangan drone untuk kebutuhan pertahanan nasional.
penulis : elsandria