Mantan Panglima TNI, Hadi Tjahjanto, mengungkapkan bahwa ia sempat tidak percaya ketika mendengar kabar duka mengenai gugurnya Marsma TNI Fajar Adriyanto dalam kecelakaan pesawat latih di Ciampea, Bogor. Meskipun Fajar adalah sosok yang sudah berpengalaman dengan jam terbang tinggi, Hadi merasa terkejut dengan kejadian tersebut. Kepergian Fajar meninggalkan kesan mendalam bagi banyak pihak, termasuk Hadi Tjahjanto.
Baca juga: 25 Penumpang Cedera pada Penerbangan Delta yang Dialihkan ke MSP Setelah Mengalami Turbulensi Parah
Hadi Tjahjanto Mengungkapkan Keterkejutan atas Kabar Kecelakaan Fajar
Ketika kabar kecelakaan pesawat yang melibatkan Marsma Fajar pertama kali sampai ke Hadi Tjahjanto, ia merasa ragu dan tidak percaya. Sebagai mantan Panglima TNI yang mengenal Fajar dengan baik, Hadi tahu betul tentang pengalaman terbang Fajar yang luar biasa, termasuk menerbangkan pesawat F-16.
"Ketika saya mendapat kabar pagi itu, saya tidak percaya karena Pak Fajar sudah memiliki banyak jam terbang dan merupakan penerbang F-16," ujar Hadi Tjahjanto, saat melayat ke rumah duka di Komplek TNI AU Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (3/7/2025).
Namun, setelah melakukan komunikasi lebih lanjut untuk memastikan informasi tersebut, Hadi akhirnya menerima kenyataan bahwa Fajar telah mendapatkan musibah yang mengakhiri hidupnya.
Pesawat Latih Microlight yang Mengambil Nyawa Fajar
Marsma Fajar Adriyanto meninggal dunia pada 23 Juni 2025 dalam kecelakaan pesawat latih jenis Microlight Fixedwing Quicksilver GT500. Pesawat dengan nomor register PK-S126 tersebut terjatuh setelah lepas landas dari Lanud Atang Sendjaja pada pukul 09:08 WIB. Fajar bertindak sebagai pilot, sementara Roni yang menjadi kopilot mengalami luka berat dan saat ini sedang mendapatkan perawatan.
Pesawat tersebut digunakan dalam misi latihan profisiensi penerbangan olahraga dirgantara yang digelar oleh Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). Pesawat ini sudah melalui uji kelaikan udara dan dinyatakan aman untuk digunakan.
Kelaikan Udara dan Keterbatasan Pesawat Microlight
Hadi Tjahjanto menjelaskan bahwa pesawat yang digunakan oleh Fajar merupakan jenis pesawat rekayasa, atau sering disebut pesawat "capung". Pesawat ini dirancang untuk kegiatan olahraga dan memiliki beberapa keterbatasan teknis, seperti kerangka yang terbuat dari bahan ringan dan sayap dari kain. Meski demikian, Hadi menegaskan bahwa pesawat tersebut telah menjalani pemeriksaan kelaikan udara dan dinyatakan layak terbang.
"Pesawat ini memang memiliki keterbatasan, namun melalui uji kelaikan udara, pesawat tersebut dinyatakan aman," terang Hadi.
Penyebab Kecelakaan Masih dalam Penyidikan TNI AU
Pesawat Microlight yang dikemudikan Fajar hilang kontak setelah beberapa menit lepas landas dan ditemukan jatuh di sekitar kawasan Ciampea, Bogor. TNI AU telah memulai penyelidikan untuk mencari tahu penyebab pasti kecelakaan tersebut. Sementara itu, Roni, kopilot yang turut dalam penerbangan, masih dalam kondisi kritis dan mendapatkan perawatan intensif.
Kepergian Marsma Fajar Adriyanto menyisakan duka bagi keluarga, rekan-rekan, dan seluruh jajaran TNI AU. Namun, kenangan tentang dedikasi dan profesionalismenya akan tetap hidup sebagai inspirasi bagi banyak orang.
Penulis: Fiska Anggraini