Logo Universitas Teknokrat Indonesia

Hanung Bramantyo: Sudut Pandang Sutradara Terkenal Soal Film Animasi Merah Putih: One For All

Gambar untuk Hanung Bramantyo: Sudut Pandang Sutradara Terkenal Soal Film Animasi Merah Putih: One For All

Film animasi Merah Putih: One For All, yang mengangkat kisah persatuan anak-anak Indonesia dalam petualangan menyelamatkan bendera pusaka sebelum 17 Agustus, ternyata menyulut polemik tajam. Sutradara ternama Hanung Bramantyo memberikan tanggapan serius terkait anggaran rendah dan ekspektasi tinggi yang menyertai film ini—sebuah sinyal penting dalam diskusi industri animasi lokal.

baca juga:Bancakan Dana CSR BI-OJK dan Bantahan Anggota Komisi XI soal Tuduhan Terima Uang


Apakah Anggaran Rp6–7 Miliar Cukup untuk Film Animasi Berkualitas?

Hanung tegas menyebut anggaran Rp6–7 miliar, yang setelah dipotong pajak 13% menjadi sekitar Rp6 miliar, jelas tidak cukup untuk menghasilkan karya animasi layar lebar berkualitas tinggi. Ia menekankan bahwa besaran tersebut hanya cukup untuk menghasilkan previsualization—yakni storyboard berwarna gerak semata—bukan animasi final siap tayang.Konteks - Baca Teks Sesuai Kontekssolobalapan.jawapos.comKilat News

Menurutnya, investasi ideal untuk animasi berkualitas adalah sekitar Rp30–40 miliar, belum termasuk biaya promosi, dengan waktu pengerjaan yang membutuhkan 4–5 tahun lamanya.Kaltim Post - Berita Kalimantan TimurKonteks - Baca Teks Sesuai Konteks

“Budget Rp7 miliar untuk film animasi ... hasilnya tetap JELEK!”
— Hanung Bramantyosolobalapan.jawapos.com


Kenapa Hanung Menyarankan Penundaan Penayangan?

Hanung juga menyoroti bagaimana proyek ini tampak dipaksakan tayang menjelang momen 17 Agustus. Menandai tokoh publik seperti Fadli Zon dan Giring, ia menyarankan agar penayangan ditunda agar kualitas animasi bisa diperbaiki terlebih dahulu.Kilat News

baca juga:Universitas Teknokrat Indonesia Diakui LLDikti sebagai Pencetak SDM Berkualitas


Mengapa Kritikan Ini Penting bagi Industri Animasi Indonesia?

Kritikan ini membuka empat poin penting:

  1. Anggaran rendah berdampak langsung ke kualitas visual, terbukti film ini menggunakan aset bawaan dan bukan karya custom.
  2. Eksekusi terburu-buru berdampak buruk bagi storytelling dan visual, meski tema kebangsaan sudah tepat.
  3. Menetapkan standar kualitas industri animasi Indo, agar ada harapan investasi nyata yang sejalan dengan ambisi kreatif.
  4. Mendorong praktik pembuatan film yang lebih realistis dan bertanggung jawab, termasuk timeline dan dana yang memadai.

penulis:Titin af-idatus soraya