Pasar Keuangan Indonesia Melemah Akibat Sentimen Global dan Domestik
Pasar keuangan Tanah Air kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis, 31 Juli 2025. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,87% ke level 7.484,34, tertekan oleh kombinasi faktor eksternal dan internal.
Salah satu sentimen utama datang dari keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang tetap mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 4,25%-4,50%. Hal ini memicu tekanan pada aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
baca:Barcelona Menang Telak 7-3 atas FC Seoul dalam Laga Pramusim, Meski Ada Masalah di Pertahanan
Data Perdagangan: IHSG Turun, Net Sell Asing Capai Rp 1,26 Triliun
- 📉 Penurunan IHSG: -0,87%
- 💸 Nilai transaksi: Rp 18,27 triliun
- 🔁 Volume saham: 41,63 miliar lembar
- 🧾 Frekuensi transaksi: 2 juta kali
- 🔻 Saham melemah: 412 saham
- 🔺 Saham naik: 228 saham
- ➖ Saham stagnan: 164 saham
- 🌍 Net sell asing: Rp 1,26 triliun
Saham Perbankan Jadi Penekan Utama IHSG
Sektor perbankan menjadi salah satu pemberat terbesar IHSG. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), usai merilis laporan keuangan semesteran, mencatat penurunan 1,85%. Koreksi tersebut menyumbang 11,53 poin terhadap penurunan IHSG secara keseluruhan.
Sektor lain seperti utilitas, finansial, dan industri juga mengalami tekanan signifikan, menunjukkan koreksi yang cukup merata di bursa.
Rupiah Melemah 0,40%, Tergerus Dolar AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 0,40% ke posisi Rp 16.450/US$. Secara bulanan, sepanjang Juli 2025, rupiah telah terdepresiasi 1,64% terhadap greenback.
Apa Penyebab Melemahnya Rupiah?
- The Fed tetap mempertahankan suku bunga → minat terhadap aset dolar meningkat
- Indeks Dolar AS (DXY) masih kuat meski sedikit turun ke 99,73
- Investor asing mulai menarik dana dari negara berkembang
baca:Muhammad Abdullah Azzam Siswa SMA Al Kautsar Lolos Program Pelajar Lampung di Parlemen
Pasar Obligasi: Imbal Hasil SBN 10 Tahun Turun Tipis
Sementara itu, pasar obligasi menunjukkan peningkatan minat beli. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun menjadi 6,546%, dari sebelumnya 6,549%. Penurunan yield ini mengindikasikan harga obligasi naik, yang berarti investor mulai masuk ke instrumen berisiko rendah di tengah volatilitas pasar saham.
penulis: inziria