Logo Universitas Teknokrat Indonesia

Instalasi Sagu Natura Kultura: Upaya Menyelamatkan Warisan dan Lingkungan di Kendari

Kategori: hiburan
Gambar untuk Instalasi Sagu Natura Kultura: Upaya Menyelamatkan Warisan dan Lingkungan di Kendari

Sagu, Harapan Baru untuk Bumi yang Terluka

Sagu dikenal sebagai sumber pangan ramah lingkungan yang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara. Kini, di tengah tantangan perubahan iklim dan alih fungsi lahan, sagu kembali diangkat sebagai simbol harapan melalui pameran instalasi Sagu Natura Kultura di Taman Kali Kadia, Kendari.

Baca juga :Bruno Fernandes Kritik Performa Pemain MU: “Hari Ini Kami Malas!”

Pameran Instalasi Sagu, Edukasi Visual untuk Generasi Muda

Pameran ini menampilkan instalasi artistik berbahan bambu yang menggambarkan proses tradisional pengolahan sagu. Salah satunya berupa replika batang sagu sepanjang lima meter dengan sosok orang-orangan sawah yang menggambarkan aktivitas menokok sagu. Pameran ini berhasil menarik perhatian anak muda seperti Musrida dan Salsa, mahasiswa Universitas Mandala Waluya, yang penasaran dan ingin tahu lebih dalam tentang budaya sagu.

Proses Tradisional Pengolahan Sagu yang Sarat Nilai Budaya

Pengunjung diperkenalkan pada proses penyaringan sagu secara tradisional. Setelah sagu ditokok dari batang, ia harus melewati beberapa tahap penyaringan hingga menjadi saripati sagu, atau disebut tawaro dalam bahasa Tolaki. Banyak pengunjung yang baru menyadari betapa panjang dan rumit proses ini, yang selama ini kurang dihargai.

Menjaga Eksistensi Sagu di Tengah Modernisasi

Ashari, penyelenggara dari IDEA Project, menyatakan bahwa peran sagu kian terpinggirkan karena perubahan pola konsumsi, ekspansi sawit, pertambangan, dan pembangunan pemukiman. Melalui pameran ini, ia berharap bisa mengembalikan perhatian publik terhadap pentingnya pelestarian sagu, tidak hanya sebagai pangan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya.

Nilai Filosofis dan Ekologis Sagu dalam Kehidupan Suku Tolaki

Menurut sejarawan Tolaki, Basrin Melamba, sagu telah dikenal sejak abad ke-7 dan berkembang pesat pada abad ke-15. Bagi masyarakat Tolaki, sagu bukan hanya makanan, tetapi juga simbol kekayaan, persatuan, religiusitas, dan keberlanjutan hidup. Secara ekologis, tanaman ini menyuburkan tanah, menyimpan air, dan mendukung keseimbangan lingkungan.

Baca juga :Universitas Teknokrat Indonesia Gelar Wisuda 2025: Cetak Lulusan Unggul dan Berdaya Saing Global

Seruan untuk Membudidayakan dan Menghidupkan Kembali Sagu

Saat ini, nilai ekonomis sagu hampir hilang. Basrin menekankan perlunya komitmen bersama dari masyarakat dan pemerintah untuk membudidayakan sagu secara serius. Jika tidak, sagu hanya akan menjadi bagian dari instalasi seni yang tinggal dikenang, bukan lagi dimanfaatkan dalam kehidupan nyata.

Penulis : Naysila pramuditha azh zahra