Pasar keuangan Tanah Air lagi-lagi berjalan tak senada. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terjun. Jatuhnya saham-saham perbankan hingga berakhirnya pesta IPO pada salah satu saham konglomerat menjadi penyebab kejatuhan IHSG. Sementara rupiah masih mampu bertahan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
IHSG diperkirakan akan berada di fase akumulasi alias sideaway, akan tetapi masih memiliki peluang penguatan yang didukung oleh beberapa data yang akan rilis. Selengkapnya mengenai sentimen dan proyeksi pasar hari ini dapat dibaca pada halaman 3 pada artikel ini. Investor juga dapat mengintip agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini baik dalam negeri dan luar negeri pada halaman 4.
IHSG pada perdagangan Rabu (6/8/2025) ditutup melemah 0,15% di level 7.503,75. Meskipun melemah, IHSG mampu bertahan di level psikologis 7.500. Kini IHSG tengah berada di area konsolidasi alias fase akumulasi secara minor trend.
Baca juga: Kolaborasi Lebih Mudah dengan GitHub, Begini Caranya
Nilai transaksi mencapai Rp 15,4 triliun yang melibatkan 27,85 miliar saham dalam 1,89 juta kali transaksi. Sebanyak 320 saham naik, 270 saham turun, dan 215 tidak bergerak. Asing mencatat net buy sebesar Rp 432,9 miliar.
Mengutip Refinitiv, utilitas menjadi sektor yang naik paling kencang, yakni 1,75%. Hal ini seiring dengan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang naik 2,12% dan menyumbang 8,53 indeks poin terhadap IHSG. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang melesat 11,43% berkontribusi 5,15 indeks poin.
Adapun tekanan terhadap sektor finansial kembali terjadi. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyumbang 7,14 indeks poin, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 4,94 indeks poin, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) 3,91 indeks poin, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 3,5 indeks poin.
Kondisi tersebut kontras dengan perdagangan sebelumnya. Sebanyak tiga emiten bank jumbo kompak masuk dalam daftar 10 saham penggerak utama IHSG.
Sementara itu pasar Asia-Pasifik mayoritas ditutup di zona hijau pada perdagangan kemarin. Indeks acuan Jepang, Nikkei 225, naik 0,6% ke level 40.794,86 dan Topix menguat 1,02%, mengakhiri hari di 2.966,57.
Indeks S&P/ASX 200 Australia ditutup naik 0,84% di posisi 8.843,7. Indeks CSI 300 China daratan menguat 0,24% ke 4.113,49. Lalu Kospi Korea Selatan ditutup mendatar di level 3.198,14.
Pasar modal Tanah Air diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen pertumbuhan ekonomi dan juga rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI) edisi Agustus 2025 untuk saham-saham Tanah Air.
Sebelumnya MSCI telah mencabut mencabut perlakukan khusus pada tiga saham Konglomerat Prajogo Pangestu, yaitu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Dengan demikian membuka peluang bagi saham Prajogo untuk masuk ke dalam MSCI.
Beralih ke rupiah, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu (6/8/2025) ditutup menguat 0,12% di level Rp16.355/US$1. Penguatan tersebut menjadi penguatan rupiah selama 3 hari beruntun.
Pergerakan rupiah pada perdagangan kemarin Rabu (6/8/2025), dapat dikatakan cukup stabil dengan rentang pergerakan harian di level Rp16.355-Rp16.390/US$. Hal ini terjadi sejalan dengan pergerakan indeks dolar AS yang dalam pekan ini bergerak stabil di rentang level 98,58-99,07.
Rendahnya volatilitas indeks dolar AS karena investor tengah menimbang prospek kebijakan moneter The Fed di tengah rilis data ekonomi yang beragam dan meningkatnya ketegangan dagang global.
Data terbaru dari Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan bahwa aktivitas sektor jasa AS pada Juli nyaris terhenti dan berada di bawah ekspektasi pasar. Hal ini menandakan dampak ekonomi dari kebijakan tarif Presiden Donald Trump mulai terasa.
Di sisi lain, pelaku pasar tengah menunggu jelang keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengisi kekosongan kursi di Dewan Gubernur Federal Reserve.
Mengutip dari Reuters, Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Selasa (5/8/2025), bahwa akan menentukan calon untuk posisi tersebut pada akhir pekan ini, dan secara terpisah telah mempersempit daftar kandidat pengganti Ketua The Fed Jerome Powell menjadi empat nama.
Pasar saat ini memperkirakan peluang lebih dari 90% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan September, dengan ekspektasi total pemangkasan sekitar 60 basis poin hingga akhir tahun.
Adapun dari pasar obligasi Indonesia, pada perdagangan Rabu (6/8/2025) imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melemah ke 6,469%.
Imbal hasil obligasi yang melemah menandakan bahwa para pelaku pasar sedang kembali mengumpulkan SBN.
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street terbang pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Saham menguat didorong oleh lonjakan harga saham Apple, sementara investor menganalisis laporan keuangan korporasi terbaru.
S&P 500 naik 0,73% dan ditutup di level 6.345,06, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 1,21% dan berakhir di 21.169,42. Dow Jones Industrial Average menguat 81,38 poin atau 0,18%, ditutup di 44.193,12.
Apple naik 5% setelah seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi produsen iPhone tersebut akan meningkatkan investasinya dalam manufaktur domestik sebesar $100 miliar. Hal ini menjadikan total investasi Apple di AS menjadi $600 miliar dalam empat tahun ke depan.
Pergerakan ini terjadi setelah hari sebelumnya pasar mengalami penurunan, menandai hari kelima dari enam hari terakhir di mana S&P 500 turun, dan hari keenam dari tujuh hari terakhir di mana Dow Jones melemah.
"Secara umum, ini adalah fase konsolidasi yang masih berlangsung akibat volatilitas yang cukup tinggi di akhir pekan lalu, ketika laporan ketenagakerjaan mengecewakan dan Federal Reserve tidak memangkas suku bunga," kata Michael Green, manajer portofolio dan kepala strategi di Simplify Asset Management, kepada CNBC International.
Investor masih bergulat dengan potensi dampak dari tarif yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump, yang menurut Green "tidak separah yang dikhawatirkan sebelumnya.
Pada Rabu, pemerintahan Trump mengumumkan pengenaan tarif tambahan sebesar 25% atas barang-barang dari India, sehingga total tarif AS terhadap barang dari salah satu mitra dagang utama itu mencapai 50%.
"Orang-orang mulai menyadari bahwa tarif berdampak berbeda bagi AS sebagai pengimpor dibandingkan jika AS adalah negara pengekspor utama, dan secara umum situasi sudah mulai mereda," ujar Green kepada CNBC
Menurut data dari FactSet, musim laporan keuangan masih berlanjut dengan banyak perusahaan yang melaporkan hasil yang kuat. Sekitar 81% perusahaan dalam S&P 500 yang sudah melaporkan kinerja keuangannya sejauh ini, berhasil melampaui ekspektasi.
Di antara saham yang berkinerja baik, McDonald's ditutup naik hampir 3% setelah laporan keuangan kuartal kedua perusahaan makanan cepat saji tersebut melampaui perkiraan analis, baik dari sisi pendapatan maupun laba.
Penjualan toko yang sama tumbuh pada laju tercepat dalam hampir dua tahun. Arista Networks juga melonjak 17% berkat laporan yang lebih baik dari perkiraan.
Sebaliknya, saham Snap anjlok 17% setelah pendapatan perusahaan sedikit meleset dari ekspektasi. Sementara itu, Advanced Micro Devices (AMD) turun lebih dari 6% setelah laba per saham yang disesuaikan tidak memenuhi estimasi analis.
Green mengkhawatirkan bahwa investor tidak lagi memberikan penghargaan sebesar dulu terhadap kinerja keuangan yang melebihi ekspektasi, mengindikasikan bahwa ekspektasi pasar sudah terlalu tinggi sebelum musim laporan keuangan dimulai.
Sejumlah sentimen akan membayangi pasar saham, rupiah dan obligasi pada hari ini. Jika pasar saham saat ini cenderung bergerak sideaway di area konsolidasi maka sebaliknya rupiah menguat.
Kabar perekonomian Indonesia yang tumbuh 5,12% pada kuartal II 2025 nyatanya tak mampu membuat IHSG terus menguat. Akan tetapi masih terdapat rilis cadangan devisa RI hingga kabar pengumuman hasil rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) edisi Agustus 2025 untuk saham-saham Tanah Air. Hal ini yang akan mendorong laju pasar saham RI hari ini.
Rebalancing MSCI
Pada hari ini Kamis (7/8/2025), Morgan Stanley Capital Indonesia (MSCI) akan melakukan penyesuaian komposisi indeks pada 27 Agustus 2025, berdasarkan hasil evaluasi yang akan diumumkan hari ini. Rebalancing ini penting untuk menentukan saham-saham Indonesia mana saja yang masuk atau keluar dari indeks MSCI, yang menjadi acuan utama bagi banyak investor global.
Selain memantau siapa yang keluar maupun masuk, memperhatikan saham-saham dengan bobot yang besar juga cukup penting, karena bisa saja porsinya dikurangi atau ditambah.
Apalagi lima saham itu menguasai hampir 68% bobot indeks, sehingga pergerakan mereka sangat berpengaruh terhadap kinerja MSCI Indonesia secara keseluruhan.
Adapun untuk jadwal rebalancing ini akan secara efektif berlaku pada 27 Agustus mendatang. Jadi, biasanya akan ada cut off untuk transaksi pada sehari sebelumnya.
Berikut sejumlah agenda ekonomi dalam dan luar negeri pada hari ini:
LPS Financial Festival 2025 - Day 2 di Surabaya
Konferensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2025 yang akan diselenggarakan di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), ITB, Bandung. Turut hadir antara lain 08 dan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.
Menteri Perdagangan akan menghadiri kegiatan Kick Off ASEAN Online Sale Day (AOSD) 2025 yang akan dilaksanakan di Auditorium Kemendag, Jakarta Pusat.
Musyawarah Daerah REI DKI Jakarta di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Gubernur DKI Jakarta, Wakil Menteri Perumahan, dan perwakilan REI.
Opening Ceremony Karya Kreatif Indonesia 2025 yang akan dibuka oleh Gubernur Bank Indonesia yang akan dilaksanakan di Hall B, JICC, Jakarta Pusat.
Press conference BNI wondrX 2025 di Patio Venue, Wijaya, Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Direktur Consumer Banking BNI.
Indosat menggelar acara "AI untuk Kita Semua: Lindungi Indonesia dari Spam dan Scam" yang akan diselenggarakan di Auditorium Kantor Indosat, Jakarta Pusat. Turut hadir CEO Indosat.
Media briefing Google terkait AI untuk pendidikan di Kembang Goela Restaurant, Jakarta. Narasumber antara lain Google for Education, Lead Marketing for Asia Pacific.
Baca juga: LLDIKTI Wilayah II Dorong Lulusan Teknokrat Ciptakan Peluang Di Tengah Tantangan Global
Rebalancing indeks MSCI edisi Agustus 2025
Cadangan Devisa RI Juli 2025
Neraca Dagang, Ekspor & Impor China Juli 2025
Cadangan Devisa China Juli 2025
Penulis: Indra Irawan