Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Irjen Pol Anggoro Sukartono, bersama Wakapolda Brigjen Pol Eddy Djunaedi, turut menghadiri Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda Indonesia Derby 2025. Acara bergengsi ini berlangsung meriah selama dua hari, Sabtu hingga Minggu, 26–27 Juli 2025, di Stadion Sultan Agung, Bantul.
Baca juga: Inovasi Wakaf Reksa Dana Mahasiswa Unair Sabet Empat Medali di Ajang Internasional Turki
Ajang ini sekaligus menjadi final dari rangkaian Triple Crown nasional, yang menjadi penanda kebangkitan olahraga pacuan kuda Indonesia. Ribuan penonton memadati stadion, menyaksikan langsung pertarungan kuda-kuda terbaik dari berbagai daerah.
Ribuan Penonton Padati Arena Pacuan Kuda
Antusiasme luar biasa terlihat dari para peserta, pemilik kuda, hingga masyarakat umum. Tak hanya menyajikan pacuan kuda bergengsi, kejuaraan ini juga diramaikan dengan berbagai acara pendukung yang menarik minat keluarga dan anak-anak.
Anto Odang, Founder Sarga.co selaku penyelenggara, menyampaikan rasa bangganya atas kesuksesan acara ini. Ia menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk terus memajukan olahraga pacuan kuda di Indonesia.
“Kami sangat gembira bisa menyelenggarakan final nasional Triple Crown. Ini adalah langkah besar untuk membawa olahraga pacuan kuda ke masyarakat luas,” ujarnya.
Sarga Festival dan Web Series Perkenalkan Pacuan Kuda ke Generasi Muda
Momen final kejuaraan juga dimeriahkan dengan gelaran Sarga Festival, yang menyedot perhatian lebih dari 15 ribu pengunjung. Festival ini menghadirkan berbagai zona bermain anak, seni menggambar, permainan interaktif, hingga peluncuran web series Racing Hearts yang dibintangi Dion Wiyoko, Richard Kyle, dan Valerie Thomas.
Upaya ini menjadi bagian dari strategi memperkenalkan pacuan kuda ke generasi muda melalui pendekatan hiburan dan kreativitas.
156 Kuda dari 13 Provinsi Bersaing, King Argentine Incar Sejarah
Ketua Umum PP Pordasi, Aryo Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa edisi ke-59 Kejurnas Pacuan Kuda ini diikuti oleh 156 ekor kuda dari 13 provinsi. Jumlah ini disaring dari lebih dari 300 pendaftar. Aryo juga menyoroti peluang sejarah jika King Argentine kembali meraih Triple Crown setelah dua kali sebelumnya berhasil pada 2004 dan 2014.
“Kami fokus pada penyelenggaraan yang aman dan profesional, sesuai arahan Presiden Prabowo terkait zero accident dalam olahraga,” kata Aryo.
Popularitas Meningkat, Potensi Ekonomi Pacuan Kuda Makin Besar
Popularitas pacuan kuda nasional turut melonjak. Tayangan siaran langsung di YouTube naik hingga 8.000 penonton, sementara total penonton secara keseluruhan tahun ini mencapai 110 ribu, naik signifikan dari tahun sebelumnya yang berkisar 60–70 ribu. Di TikTok, beberapa konten pacuan bahkan viral dan ditonton hingga 8 juta kali.
Aryo juga menekankan bahwa potensi pacuan kuda tak hanya ada di Pulau Jawa. Ia mencontohkan PON di Takengon, Aceh, yang menarik 120 ribu penonton. Fenomena serupa terjadi di Bima dan Sulawesi Utara. Bahkan, harga seekor kuda lokal bisa menembus Rp 61 miliar.
“Stok kuda pacu kini sangat terbatas. Di Sulawesi Utara, saya cek sendiri, sudah habis,” ujarnya.
Hadiah Miliaran dan Harga Anak Kuda Melonjak
Ketua Panitia, Ir. H. Munawir, menyatakan optimisme tinggi terhadap masa depan pacuan kuda Indonesia. Ia menyebut hadiah total yang mencapai Rp 1,2 miliar membuat kompetisi ini semakin bergengsi, dan berdampak pada meningkatnya nilai anak kuda di pasaran.
“Dulu anak kuda dihargai Rp 50 juta. Sekarang bisa tembus Rp 200 juta,” ungkapnya.
Indonesia Derby 2025: Bukan Sekadar Lomba, Tapi Industri Masa Depan
Dengan suksesnya pelaksanaan, antusiasme publik, serta lonjakan nilai ekonomi, Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda Indonesia Derby 2025 telah membuktikan diri bukan sekadar kompetisi, melainkan simbol kebangkitan pacuan kuda sebagai olahraga sekaligus industri potensial di Tanah Air.
Penulis: Kayla Maharani