Logo Universitas Teknokrat Indonesia

Kenapa Guncangan Pesawat Menjadi Lebih Sering dan Lebih Parah

Kategori: Other
Gambar untuk Kenapa Guncangan Pesawat Menjadi Lebih Sering dan Lebih Parah

Penyebab Guncangan Pesawat yang Semakin Meningkatkan Kekhawatiran

Guncangan pesawat atau turbulensi sering kali menjadi pengalaman yang menegangkan bagi para penumpang. Baru-baru ini, Andrew Davies, yang dalam perjalanan menuju Selandia Baru untuk mengerjakan pameran Doctor Who, mengalami turbulensi yang cukup parah selama penerbangannya. Ia menggambarkan pengalamannya seperti berada di roller coaster, dengan pesawat yang tiba-tiba jatuh setelah dorongan keras yang membuatnya terlempar ke kursi. Meski ia tergolong beruntung karena hanya mengalami luka ringan, beberapa penumpang lainnya terluka parah, dan seorang penumpang, Geoff Kitchen, meninggal karena serangan jantung akibat turbulensi tersebut.

Baca juga: Diskon Tiket Kereta Api Hingga 60% di KAI Expo 2025: Simak Cara Membelinya!

Turbulensi yang Meningkatkan Risiko Cedera

Kendati kematian akibat turbulensi sangat jarang, cedera serius tetap menjadi masalah yang signifikan. Sejak tahun 2009, data dari National Transportation Safety Board (NTSB) menunjukkan adanya 207 cedera parah di AS akibat turbulensi, dengan 166 di antaranya dialami oleh awak pesawat yang tidak sedang duduk. Guncangan yang kuat ini menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan peningkatan frekuensi dan intensitas turbulensi akibat perubahan iklim yang memengaruhi kondisi atmosfer.

Turbulensi: Lebih Sering dan Lebih Parah Akibat Perubahan Iklim

Perubahan iklim berperan penting dalam meningkatkan turbulensi. Profesor Paul Williams, seorang ilmuwan atmosfer dari University of Reading, memperkirakan bahwa dalam beberapa dekade mendatang, turbulensi parah akan berlipat ganda atau tiga kali lipat di seluruh dunia. Penyebab utama turbulensi adalah perubahan suhu dan pola angin di atmosfer bagian atas, yang mengarah pada peningkatan intensitas turbulensi.

Turbulensi parah ditandai oleh gerakan naik dan turun pesawat yang menyebabkan gaya gravitasi lebih dari 1.5g. Secara global, diperkirakan ada sekitar 5.000 insiden turbulensi parah setiap tahun, meskipun hanya sekitar 35 juta penerbangan yang terbang setiap tahunnya. Penerbangan yang mengarah ke Atlantik Utara telah mengalami peningkatan 55% dalam turbulensi parah dalam 40 tahun terakhir.

Turbulensi Jernih: Fenomena yang Sulit Diprediksi

Turbulensi yang terjadi tanpa adanya awan atau badai, yang dikenal dengan turbulensi udara jernih, adalah jenis turbulensi yang paling sulit diprediksi. Penyebabnya adalah perubahan arah atau kecepatan angin di sekitar jet stream, yang terletak di ketinggian tempat pesawat terbang. Perubahan suhu antara udara dingin di utara dan udara panas di selatan memperburuk turbulensi ini, membuatnya lebih kuat dan lebih sering.

Dampak Perubahan Iklim pada Turbulensi Udara

Dengan adanya perubahan iklim, turbulensi konvektif (yang terjadi akibat badai atau awan besar) semakin meningkat. Cuaca yang lebih panas menyebabkan atmosfer dapat menahan lebih banyak kelembaban, yang berkontribusi pada peningkatan intensitas badai. Kumulonimbus, atau awan badai, menghasilkan guncangan yang sangat kuat karena udara yang naik dan turun dengan cepat di dalamnya.

Selain itu, turbulensi udara jernih dipengaruhi oleh pemanasan udara yang lebih besar di bagian selatan jet stream, yang mengarah pada angin jet stream yang lebih kuat. Hal ini menyebabkan turbulensi yang lebih kuat dan lebih sering, yang dapat mengganggu kenyamanan perjalanan udara.

Dampak Ekonomi dan Logistik bagi Maskapai

Meskipun pesawat dirancang untuk menangani turbulensi, ada biaya tersembunyi yang harus ditanggung oleh maskapai. AVTECH, sebuah perusahaan teknologi yang memantau perubahan iklim, memperkirakan bahwa maskapai bisa menghadapi biaya hingga £1,5 juta per tahun akibat turbulensi. Biaya tambahan ini meliputi pemeriksaan pesawat setelah turbulensi parah, biaya kompensasi jika penerbangan dialihkan, dan biaya bahan bakar ekstra untuk menghindari badai atau turbulensi.

Selain itu, pengalihan jalur penerbangan untuk menghindari turbulensi dapat menyebabkan keramaian udara dan tambahnya beban kerja bagi pengendali lalu lintas udara. Maskapai juga harus mengeluarkan lebih banyak bahan bakar dan waktu penerbangan untuk menghindari area turbulensi.

Solusi dan Teknologi untuk Mengurangi Dampak Turbulensi

Proyeksi turbulensi di masa depan lebih bisa diprediksi berkat kemajuan teknologi. Radar cuaca di pesawat dapat mendeteksi badai yang akan datang, sementara pemetaan turbulensi komputer memungkinkan pilot untuk mengetahui area turbulensi yang mungkin terjadi selama penerbangan. Teknologi ini semakin canggih, meskipun masih belum sempurna.

Selain itu, maskapai seperti Southwest Airlines di AS mengubah prosedur layanan kabin untuk mengurangi cedera akibat turbulensi, dengan mengharuskan penumpang tetap duduk lebih lama sebelum pesawat mencapai ketinggian tertentu.

Alternatif Teknologi untuk Mengurangi Turbulensi

Inovasi dalam desain pesawat dan penggunaan teknologi berbasis AI juga sedang diuji. AI dapat memperkirakan turbulensi dalam waktu nyata dan menyesuaikan kontrol sayap pesawat untuk mengurangi dampaknya. Sementara teknologi sayap yang dapat menyesuaikan posisi berdasarkan turbulensi juga sedang dikembangkan oleh beberapa perusahaan rintisan, seperti Turbulence Solutions.

Baca juga: Pengukuhan Mahasiswa Terbaik dan Teladan Bukti Komitmen Teknokrat Ciptakan SDM Unggul

Dampak Turbulensi yang Semakin Parah

Turbulensi memang dapat menjadi lebih sering dan lebih parah akibat perubahan iklim, tetapi berkat kemajuan teknologi dan desain pesawat yang lebih baik, keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas utama. Meski turbulensi bisa mengganggu, teknologinya terus berkembang untuk mengurangi dampaknya.

Penulis: Fiska Anggraini