Tottenham Hotspur telah mengeluarkan banyak modal di bawah kepemimpinan Daniel Levy, namun trofi tetap sulit diraih. Bahkan, Levy mengaku bingung dengan situasi ini meski sudah berusaha maksimal.
baca juga:Prabowo Akan Lantik Wakil Panglima TNI pada 10 Agustus di Batujajar
Daniel Levy dan Ambisi Besar Tottenham
Daniel Levy telah menjadi pemimpin Tottenham Hotspur sejak Desember 2000 dan saat ini menjadi chairman terlama di Premier League. Selama bertahun-tahun, Levy menunjukkan ambisi besar untuk membawa Spurs bersaing di papan atas dan meraih trofi. Di bawah kepemimpinannya, klub ini telah mengeluarkan lebih dari 1,7 miliar paun untuk belanja pemain.
Selama masa kepemimpinan Levy, beberapa pemain bintang dunia seperti Dimitar Berbatov, Luka Modric, dan Gareth Bale berhasil didatangkan untuk memperkuat tim. Meskipun demikian, hasilnya seringkali mengecewakan, dengan Tottenham Hotspur gagal merebut trofi meskipun banyak kali berhasil mencapai tahap akhir kompetisi.
Trofi yang Sulit Diraih: Mengapa Spurs Selalu Nyaris Menang?
Tottenham Hotspur telah mencapai final di berbagai kompetisi besar, termasuk tujuh final selama era Levy. Dari tujuh final tersebut, lima di antaranya adalah final Piala Liga Inggris, satu di Liga Champions, dan satu di Liga Europa. Sayangnya, hanya dua trofi yang berhasil diraih oleh tim, yakni Piala Liga Inggris pada 2008 dan Liga Europa pada 2025.
Meskipun Spurs berhasil lolos ke semifinal 16 atau 17 kali dan tujuh kali melaju ke final, mereka sering kali gagal untuk menang. Bahkan, tim ini mendapat julukan 'Spursy' karena sering kali gagal memanfaatkan momentum dan kesempatan untuk meraih kemenangan.
Daniel Levy Merasa Bingung
Daniel Levy sendiri merasa bingung dengan ketidakmampuan Tottenham Hotspur untuk meraih trofi meski telah melakukan berbagai upaya. "Ambisi kami selalu sama. Anda akhirnya bisa merasakan itu setelah memenangi Liga Europa, terima kasih Ange. Tapi itu tidak cukup. Tidak pernah cukup," ungkap Levy dalam wawancara dengan The Overlap.
Levy melanjutkan, "Kami sudah lolos ke semifinal 16 atau 17 kali, tujuh kali final, dan kami jarang menang. Kami tahu harus bisa memanfaatkan momentum itu untuk tetap menang. Kami meraih dua trofi dalam 20 tahun lebih terakhir. Kebanyakan nyaris juara."
Levy juga mengakui bahwa ia tidak tahu mengapa hal ini terjadi. "Saya bukan yang memilih tim, memotivasi tim," katanya. Meskipun sudah melakukan berbagai upaya, Levy tetap merasa kesulitan membawa Tottenham meraih trofi besar yang diinginkan oleh klub dan para penggemarnya.
Kesimpulan:
Meski sudah banyak berinvestasi dan berusaha keras untuk membangun tim yang kompetitif, Tottenham Hotspur masih belum mampu meraih banyak trofi. Daniel Levy mengakui kebingungannya atas kesulitan tersebut, dan tantangan bagi Spurs adalah untuk bisa mengubah nasib mereka dan akhirnya meraih gelar besar setelah sekian lama "nyaris juara".
penulis: wilda juliansyah