Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto baru-baru ini menaikkan pangkat Kolonel Charles Yohanes Alling menjadi Brigadir Jenderal (Brigjen). Penghargaan Sangkur Perak Kopassus yang diterimanya bukan tanpa alasan, mengingat prestasi gemilangnya, terutama dalam operasi pembebasan ratusan sandera dari kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua. Simak kisah heroik dan perjalanan kariernya berikut ini.
baca juga:8 Potret Amanda Manopo dan Kenny Austin Mendaki Gunung Merbabu, Bikin Netizen Baper
Siapa Charles Yohanes Alling dan Apa Peranannya di TNI?
Charles Yohanes Alling, lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 2001, adalah sosok penting di lingkungan Kopassus dan Kemhan. Sebelum dipromosikan menjadi Karo TU dan Protokol Setjen Kemhan, ia pernah menjabat sebagai Kabag Dukmin dan Protmen Ro TU serta Protokol Setjen Kemhan. Selama karier militernya, Charles telah mengemban sejumlah posisi strategis dan menunjukkan dedikasi tinggi dalam berbagai operasi militer.
Bagaimana Operasi Pembebasan Sandera di Papua Dilakukan?
Pada 17 November 2017, kelompok teroris Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang dipimpin Tenny Kwalik dan Ayub Waker melakukan serangan di tiga kampung di Tembagapura, Papua: Kampung Kimbeli, Kampung Banti, dan Kampung Longsoran. Mereka menyandera warga lokal dan pendatang, memaksa mereka tetap berada di kampung tanpa akses untuk membeli makanan sehingga banyak sandera terpaksa bertahan hidup dengan daun-daunan.
Untuk menangani krisis ini, pemerintah membentuk Tim Maleo, yang terdiri dari 13 prajurit Kopassus terbaik dengan kemampuan khusus, seperti Sertu Ricci Broury, Lettu Inf. Syukma Putra Aditya, dan lainnya. Tim ini bertugas menguasai kampung-kampung yang menjadi pusat penyanderaan.
Apa Tantangan dan Strategi dalam Operasi Tim Maleo?
Dalam buku “Tim Maleo: Operasi Pembebasan Sandera Tembagapura 17 November 2017” yang ditulis oleh Dansat 81 Kopassus Letkol Charles Alling, dijelaskan bahwa medan operasi sangat sulit. Terjal dan berlumut dengan jurang di kedua sisi, ditambah cuaca dingin dan hujan deras yang mengguyur, membuat prajurit menghadapi ujian berat.
Meski kelaparan dan perbekalan habis, para prajurit tetap bertahan dengan meminum air hujan dan sungai. Komandan Tim Pembebasan Sandera, Lettu Syukma Putra Aditya, mengatakan mereka tetap waspada dan menjaga stamina agar tidak lengah dalam pengawasan musuh.
Bagaimana Proses Penyerbuan dan Pembebasan Sandera Berlangsung?
Pada hari yang telah ditentukan, operasi penyerbuan dimulai dengan dentuman mortar 81. Serangan mendadak ini mengejutkan kelompok OPM yang kemudian berhamburan menyelamatkan diri. TNI berhasil membelah gunung dan menyerang dari arah yang tidak terduga, bukan melalui jalan setapak biasa.
Baku tembak sengit berlangsung selama sekitar 30 menit. Namun, kerja keras Tim Maleo dan pasukan pendukung berhasil membebaskan Kampung Kimbeli, Kampung Banti, dan beberapa kampung lain dari kendali OPM. Sebanyak 347 sandera berhasil diselamatkan dalam operasi ini.
baca juga:Universitas Teknokrat Indonesia Diakui LLDikti sebagai Pencetak SDM Berkualitas
Apa Pesan dari Kisah Heroik Ini?
Brigjen Charles Yohanes Alling mengungkapkan bahwa selama operasi, rasa sakit dan lapar tidak terasa karena fokus penuh pada misi penyelamatan sandera. Keberhasilan ini bukan hanya prestasi individu, tapi juga bukti semangat dan dedikasi tinggi prajurit Kopassus dalam menjalankan tugas negara.
penulis:Titin af-idatus soraya