Baca juga: Bongkar Rahasia Gaji Layout & Composition Specialist: Cuan Tinggi Menanti!
Bagaimana Cara Menentukan Kebutuhan Bersih (Net Requirement) dalam MRP?
Menentukan kebutuhan bersih adalah langkah krusial dalam setiap perencanaan MRP. Ibarat ingin membangun rumah, Anda harus tahu dulu berapa bata, semen, dan kayu yang benar-benar dibutuhkan setelah dikurangi stok yang sudah ada. Ini melibatkan beberapa komponen penting: permintaan pelanggan (gross requirements), stok yang tersedia (on-hand inventory), dan pesanan yang sudah masuk dalam proses (scheduled receipts). Proses menghitung kebutuhan bersih dimulai dengan mengidentifikasi total permintaan untuk suatu periode tertentu. Kemudian, kita akan memperhitungkan sisa stok yang masih tersimpan di gudang. Sisa stok ini bisa berasal dari produksi sebelumnya atau pengadaan yang belum terpakai. Setelah itu, kita juga harus memasukkan jumlah barang yang sudah pasti akan datang karena adanya pesanan dari pemasok yang sedang dalam perjalanan. Kebutuhan bersihlah yang nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan berapa banyak barang yang harus dipesan atau diproduksi di periode berikutnya. Bayangkan sebuah perusahaan yang memproduksi sepeda. Jika pada minggu ke-3 ada permintaan sebanyak 100 unit sepeda, namun stok yang ada saat ini adalah 20 unit, dan ada pesanan dari pemasok yang akan tiba sebanyak 30 unit pada minggu yang sama, maka kebutuhan bersih untuk sepeda tersebut adalah 100 - 20 - 30 = 50 unit. Angka 50 unit inilah yang akan menjadi input untuk perencanaan produksi selanjutnya.Bagaimana Menghitung Kebutuhan Pesanan (Order Quantity) dengan Tepat?
Setelah mengetahui berapa banyak barang yang benar-benar dibutuhkan (kebutuhan bersih), langkah selanjutnya adalah menentukan berapa banyak barang yang harus kita pesan dari pemasok atau produksi internal. Inilah yang disebut dengan kebutuhan pesanan (order quantity). Ada berbagai metode untuk menentukannya, dan pemilihan metode yang tepat bisa sangat mempengaruhi biaya persediaan. Salah satu metode yang paling umum adalah Lot-for-Lot (L4L). Dengan metode ini, jumlah pesanan sama persis dengan kebutuhan bersih pada periode tersebut. Keuntungannya, Anda tidak akan memiliki kelebihan stok. Namun, kekurangannya adalah Anda mungkin akan sering melakukan pemesanan dalam jumlah kecil, yang bisa meningkatkan biaya pemesanan. Metode lain yang populer adalah Economic Order Quantity (EOQ). Rumus EOQ membantu menghitung jumlah pesanan yang optimal untuk meminimalkan total biaya persediaan, yang terdiri dari biaya pemesanan dan biaya penyimpanan. Rumusnya memang agak sedikit "mengintimidasi" bagi sebagian orang, tapi pada dasarnya ia mencari keseimbangan antara frekuensi pemesanan dan ukuran setiap pesanan. Contoh lain adalah Fixed Order Quantity (FOQ), di mana jumlah pesanan selalu sama setiap kali pemesanan dilakukan, terlepas dari kebutuhan bersih. Ada juga Period Order Quantity (POQ) yang memesan dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam satu periode waktu tertentu. Pemilihan metode ini sangat bergantung pada karakteristik produk, biaya-biaya yang terlibat, dan strategi perusahaan.Bagaimana Menjadwalkan Pesanan (Order Scheduling) dengan Efektif dalam MRP?
Menentukan kapan pesanan harus diajukan adalah bagian yang tidak kalah pentingnya dari MRP. Ini bukan hanya soal berapa banyak, tapi kapan. Jadwal pesanan yang efektif memastikan bahwa barang akan tiba tepat waktu ketika dibutuhkan, menghindari keterlambatan produksi atau penumpukan stok yang tidak perlu. Proses ini seringkali melibatkan konsep lead time. Lead time adalah waktu yang dibutuhkan dari saat pesanan dibuat hingga barang siap digunakan atau dijual. Jika sebuah komponen dibutuhkan pada minggu ke-5, dan lead time-nya adalah 2 minggu, maka pesanan harus diajukan pada minggu ke-3. Perhitungan jadwal pesanan ini juga harus mempertimbangkan safety stock atau stok pengaman. Safety stock adalah persediaan tambahan yang disimpan untuk mengantisipasi ketidakpastian dalam permintaan atau pasokan. Menambah safety stock berarti kita harus sedikit lebih awal dalam melakukan pemesanan. Contoh kasusnya, jika Anda membutuhkan 50 unit komponen X pada minggu ke-4, dan lead time pengadaan komponen tersebut adalah 1 minggu, serta perusahaan menetapkan safety stock sebanyak 10 unit. Maka, Anda harus mengajukan pesanan pada minggu ke-3. Jumlah yang dipesan adalah 50 unit (kebutuhan bersih) + 10 unit (safety stock), sehingga total yang dipesan adalah 60 unit. Pesanan ini akan tiba pada minggu ke-4, dan 10 unit dari pesanan tersebut akan menjadi safety stock awal Anda.Baca juga: Asah Otakmu! Latihan Soal Identifikasi Paling Menarik!
Penulis: Zaskia Amelia