CEO Meta, Mark Zuckerberg, tengah berambisi untuk membangun tim kecerdasan buatan (AI) terkuat di dunia. Dalam upayanya, Zuckerberg berani menginvestasikan dana besar, mencapai USD 15 miliar atau sekitar Rp 244,8 triliun. Langkah ini, yang dikenal dengan nama Meta Superintelligence Labs, menjadi taruhan besar dalam perjalanan Meta menuju dominasi teknologi AI.
Baca juga: Meta Rekrut Shengjia Zhao, Pencipta ChatGPT, Jadi Kepala Ilmuwan AI Superintelligence Labs
Ambisi Besar di Dunia AI: Meta Superintelligence Labs
Meta Superintelligence Labs adalah upaya besar Zuckerberg untuk menciptakan superintelligence yang dapat memberikan dampak signifikan bagi seluruh dunia. Dengan visi jangka panjang yang ambisius, Meta berusaha mengembangkan AI yang mampu memberikan kecerdasan super pribadi bagi setiap orang.
Namun, pendirian lab ini tidak semudah yang dibayangkan. Terdapat berbagai tantangan internal dalam divisi AI Meta, termasuk manajemen yang kurang memadai, masalah pegawai, dan produk yang belum memuaskan. Kendati demikian, Zuckerberg terus mendorong timnya untuk menciptakan terobosan baru dalam teknologi AI.
Rekrut Talenta AI Terbaik dengan Gaji Fantastis
Zuckerberg sangat mengutamakan kualitas talenta di timnya. Untuk itu, Meta menawarkan gaji yang sangat tinggi untuk menarik para jagoan AI dari perusahaan-perusahaan besar seperti OpenAI, Google, Apple, dan Anthropic. Meski pasar AI semakin panas dengan persaingan ketat, Zuckerberg percaya bahwa menarik talenta terbaik lebih penting daripada sekadar jumlah orang di tim.
“Ini adalah pasar yang sangat panas dengan jumlah peneliti AI yang terbatas. Kami mencari yang terbaik,” ungkap Zuckerberg dalam wawancara dengan The Information TITV.
Perubahan Strategi dan Akuisisi Scale AI
Selain merekrut talenta, Zuckerberg juga melakukan langkah besar dengan mengakuisisi Scale AI dan mengangkat Alexandr Wang sebagai Direktur AI Meta. Wang, yang sebelumnya memimpin Scale AI, kini memimpin Meta Superintelligence Labs bersama tim elite yang terdiri dari mantan petinggi Scale AI dan GitHub.
Dengan kehadiran Wang, Meta mengubah arah strateginya, beralih dari model AI open source menjadi model tertutup. Ini adalah perubahan signifikan yang menunjukkan betapa pentingnya Meta untuk mengejar visi mereka dalam menciptakan superintelligence pribadi bagi penggunanya.
Investasi Infrastruktur Raksasa untuk Mendukung Pengembangan AI
Untuk mendukung ambisinya, Meta juga sedang membangun pusat data multi-gigawatt yang akan digunakan untuk pelatihan AI dalam skala besar. Pusat data ini dirancang khusus untuk tahan terhadap berbagai kondisi cuaca dan dijadwalkan akan beroperasi pada 2026. Langkah ini semakin mengukuhkan komitmen Meta dalam mengembangkan infrastruktur AI yang kuat dan efisien.
Baca juga: Dosen Tetap FTIK Universitas Teknokrat Indonesia Raih Gelar Doktor dari UGM
Meta AI: Tantangan Baru Setelah Gagal dengan Metaverse
Setelah ambisinya untuk mengembangkan Metaverse dinilai gagal, Zuckerberg kini kembali dengan taruhan besar di bidang AI. Keberhasilan atau kegagalan Meta Superintelligence Labs akan menjadi faktor penentu bagi masa depan industri kecerdasan buatan global. Dengan investasi yang begitu besar, Zuckerberg berharap Meta dapat menjadi pemimpin dalam teknologi AI dan memberikan dampak signifikan bagi perkembangan teknologi masa depan.
Penulis: Fiska Anggraini