Logo Universitas Teknokrat Indonesia

Obituari Marsma Fajar Adriyanto: "Red Wolf" Sang Pengejar Jet yang Gugur di Langit

Kategori: Other
Gambar untuk Obituari Marsma Fajar Adriyanto: "Red Wolf" Sang Pengejar Jet yang Gugur di Langit

Marsma TNI Fajar Adriyanto, seorang penerbang legendaris TNI Angkatan Udara, meninggal dunia setelah kecelakaan pesawat pada 23 Juni 2025. Dikenal dengan julukan "Red Wolf," Fajar menjadi sosok yang penuh dedikasi dan pengabdian sepanjang karier militernya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia penerbangan Indonesia.

Baca juga: 25 Penumpang Cedera pada Penerbangan Delta yang Dialihkan ke MSP Setelah Mengalami Turbulensi Parah

Mengenang Fajar Adriyanto: Penerbang yang Cinta Bakmi Jawa

Pada 12 Juni 2024, Marsma Fajar menikmati bakmi godog di warung Bakmi Jawa di Bentara Budaya Jakarta. Saat itu, Fajar dengan antusias berbicara tentang kegiatan-kegiatannya, termasuk perannya di Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). Walaupun sudah tidak menjabat sebagai Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara, semangatnya untuk terus aktif di dunia penerbangan tetap tinggi. Fajar bahkan mengajak wartawan untuk mengikuti kegiatannya dan mencoba terbang bersama pesawat FASI.

Penerbangan Terakhir yang Berakhir Tragis

Pada 23 Juni 2025, Fajar mengunggah ucapan ulang tahun ke-55 di akun Instagram pribadinya, namun beberapa jam kemudian, kabar duka datang. Pesawat latih jenis Microlight Fixedwing Quicksilver GT500 yang dipilotinya jatuh tak lama setelah lepas landas dari Lanud Atang Sendjaja, Bogor. Bersama co-pilotnya, Roni, Fajar terlibat dalam misi latihan olahraga dirgantara ketika pesawat tersebut kehilangan kontak dan jatuh di sekitar TPU Astana, Ciampea.

Pesawat tersebut dinyatakan laik terbang dan sudah memiliki izin terbang resmi dari Lanud Atang Sendjaja. Namun, kecelakaan tersebut mengakhiri perjalanan hidup Fajar secara tragis.

Peristiwa Bawean: Menegakkan Kedaulatan Udara Indonesia

Salah satu momen yang tak terlupakan dalam sejarah TNI AU adalah keterlibatan Fajar dalam peristiwa Bawean pada 2003. Pada peristiwa tersebut, Fajar bersama timnya berhasil mengusir lima pesawat F/A-18 Hornet milik Angkatan Laut Amerika Serikat yang melanggar wilayah udara Indonesia. Keberaniannya ini menjadi simbol kesiapsiagaan TNI AU dalam menjaga kedaulatan udara negara.

Kepergian yang Meninggalkan Warisan Besar

Marsma Fajar adalah alumnus Akademi Angkatan Udara (AAU) 1992, dan sepanjang kariernya, ia dikenal sebagai penerbang F-16 Fighting Falcon yang sangat berpengalaman. Berbagai jabatan penting sempat ia emban, mulai dari Komandan Skadron Udara 3 hingga Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau).

Meskipun sudah berada di posisi manajerial, semangat terbangnya tidak pernah surut. Fajar tetap aktif sebagai instruktur dan penguji terbang, bahkan setelah tak lagi terbang sebagai pilot tempur. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi TNI AU, tetapi semangat pengabdiannya akan terus menginspirasi penerusnya.

Kenangan Manis dari Rekan Seperjuangan

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengenang Fajar sebagai sahabat yang selalu tersenyum. Jenderal Agus, yang sempat belajar bersama Fajar di Seskoal pada 2014-2015, mengenangnya dengan penuh haru. Dalam suasana penuh emosi, Agus mendoakan agar sahabatnya beristirahat dengan tenang.

Baca juga: Wisuda Universitas Teknokrat 2025 Diwarnai Orasi Mahasiswa Bertema Perubahan Karakter Pemuda di Era Digital

Marsma Fajar: Simbol Pengabdian Tanpa Henti

Kepergian Marsma TNI Fajar Adriyanto merupakan kehilangan besar bagi dunia penerbangan Indonesia. Namun, semangat pengabdiannya akan terus dikenang oleh banyak orang. Sebagai simbol dedikasi dan keberanian, ia telah memberi contoh tentang betapa pentingnya menjaga kedaulatan dan keselamatan di udara. Terbanglah tinggi, Red Wolf, di langit abadi.

Penulis: Fiska Anggraini