Pemerintah Indonesia belum memiliki rencana untuk memblokir game Roblox meskipun ada kekhawatiran tentang konten kekerasan di dalamnya. Menkomdigi Meutya Hafid menjelaskan bahwa saat ini pihaknya masih melakukan evaluasi terhadap game yang digandrungi anak-anak ini.
baca juga:Benhur-Constant dan Mathius-Aryoko Saling Klaim Kemenangan dalam Quick Count PSU Pilgub Papua 2024
Pemerintah Masih Memantau Konten Game Roblox
Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan bahwa belum ada keputusan untuk memblokir game Roblox. Menurutnya, evaluasi terus dilakukan, dan pihak Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital akan terus memantau game tersebut untuk memastikan konten yang ada tidak merugikan generasi muda.
"Belum ada rencana untuk memblokir Roblox. Kami akan terus melihat dan mengevaluasi situasi ini," kata Meutya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu (6/8/2025).
Kekhawatiran Konten Kekerasan di Roblox
Sebelumnya, Mensesneg Prasetyo Hadi menyebutkan bahwa game Roblox menjadi perhatian pemerintah, terutama terkait dengan konten kekerasan yang dapat berdampak negatif bagi anak-anak. Menurutnya, jika ditemukan konten yang melanggar batas, pemblokiran bisa menjadi langkah yang diambil untuk melindungi generasi muda.
"Jika konten di Roblox mengandung unsur kekerasan yang dapat memengaruhi perilaku anak-anak, kita tidak akan ragu untuk menutupnya," ujar Prasetyo, menekankan pentingnya perlindungan terhadap generasi muda dari pengaruh buruk media digital.
baca juga:Pengukuhan Mahasiswa Terbaik dan Teladan Bukti Komitmen Teknokrat Ciptakan SDM Unggul
Upaya Pemerintah dalam Mengawasi Konten Digital
Pemerintah Indonesia menyadari pentingnya menjaga agar generasi muda tidak terpapar oleh konten negatif, baik dari game, media sosial, hingga media mainstream lainnya. Oleh karena itu, langkah-langkah pencegahan seperti pemantauan konten digital dilakukan secara terus-menerus.
"Yang lebih penting adalah bagaimana kita sebagai bangsa bisa menghindari pengaruh buruk yang bisa memengaruhi perilaku generasi muda. Semua pihak perlu berpikir dengan matang tentang konten-konten yang beredar di media," tambah Prasetyo.
penulis: lili rahma dini