Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mengumumkan bahwa angka kemiskinan di Jawa Tengah mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan data terbaru, tingkat kemiskinan di provinsi ini menurun sebesar 0,1 persen, yang setara dengan pengurangan sebanyak 29.000 orang dalam kurun waktu beberapa bulan.
Baca juga: PPATK Buka Kembali Jutaan Rekening Dorman yang Terblokir
Data Terbaru: Kemiskinan di Jateng Turun dari 9,58% ke 9,48%
Berdasarkan data yang diterbitkan oleh BPS, pada bulan September 2024, tingkat kemiskinan di Jawa Tengah tercatat sebesar 9,58 persen. Namun, angka tersebut turun menjadi 9,48 persen pada Maret 2025, yang menandakan penurunan yang cukup signifikan.
Dengan penurunan angka kemiskinan ini, jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah berkurang sebanyak 29.650 orang, sehingga total warga miskin di provinsi ini menjadi sekitar 3,37 juta orang.
Faktor Pendorong Penurunan Kemiskinan di Jawa Tengah
Endang Tri Wahyuningsih, Pelaksana Tugas Kepala BPS Jawa Tengah, menjelaskan bahwa penurunan angka kemiskinan tersebut adalah hasil dari kolaborasi berbagai pihak, baik dari pemerintah pusat hingga pemerintah kabupaten/kota. Menurut Endang, keberhasilan ini tidak bisa dicapai tanpa adanya data yang terintegrasi dan kerja sama lintas sektor.
"Penurunan ini bukan hanya hasil kerja sektoral, tetapi harus ada satu data yang sejalan dan saling mendukung," ujar Endang dalam keterangannya.
Pertumbuhan Ekonomi yang Mendorong Penurunan Kemiskinan
Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap penurunan angka kemiskinan di Jawa Tengah adalah pertumbuhan ekonomi yang tercatat sebesar 1,8 persen pada Triwulan I 2025. Jawa Tengah menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua setelah Maluku Utara.
Sektor industri dan pertanian memberikan kontribusi terbesar terhadap perekonomian Jawa Tengah. Peningkatan produksi padi yang signifikan pada Triwulan I 2025 menjadi contoh konkret dari kebijakan ketahanan pangan yang diterapkan oleh pemerintah provinsi.
"Produksi padi pada triwulan I 2025 mencapai 2,94 juta ton, meningkat pesat dibandingkan periode sebelumnya yang hanya 2,55 juta ton," ujar Endang.
Peran Investasi dalam Penurunan Kemiskinan
Investasi juga memainkan peran penting dalam penurunan angka kemiskinan di Jawa Tengah. Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batang dan Kawasan Industri Kendal memberikan dampak positif pada penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kegiatan ekspor-impor.
"Investasi ini telah berperan signifikan dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi angka kemiskinan," jelas Endang.
Pentingnya Data Akurat dan Sinergi Lintas Sektor
Endang juga menggarisbawahi pentingnya update data yang lebih akurat dan responsif, dengan mengacu pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional yang terintegrasi dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Ini memastikan bahwa penerima bantuan sosial dan program pengentasan kemiskinan lebih tepat sasaran.
"Komitmen semua pihak, mulai dari gubernur, wakil gubernur, hingga bupati/wali kota, sangat penting untuk keberhasilan penurunan kemiskinan di Jawa Tengah," tambahnya.
Optimisme untuk Menurunkan Kemiskinan Ekstrem
Endang optimis bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dapat terus menurunkan angka kemiskinan, termasuk kemiskinan ekstrem, dengan mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang stabil, sinergi lintas sektor, dan basis data yang semakin baik.
“Pemberdayaan masyarakat menjadi kunci utama. Bantuan harus tepat sasaran dan berkelanjutan. Dengan sinergi dan transparansi data, kita dapat menuju Jateng yang lebih sejahtera,” tuturnya.
Penulis: Fiska Anggraini