Logo Universitas Teknokrat Indonesia

Penurunan Kognitif Donald Trump Kian Jelas: Apa yang Harus Dilakukan?

Kategori: Presiden
Gambar untuk Penurunan Kognitif Donald Trump Kian Jelas: Apa yang Harus Dilakukan?

Istilah “Confabulation” dan Hubungannya dengan Trump

Dalam beberapa bulan ke depan, istilah confabulation — atau "kebohongan jujur" — diprediksi akan semakin sering terdengar, terutama ketika membahas kondisi mental mantan Presiden AS, Donald Trump. Confabulation mengacu pada kondisi ketika seseorang menceritakan informasi atau kejadian yang sama sekali tidak benar, namun ia benar-benar percaya pada apa yang dikatakannya.

Baca Juga : Bagaimana Teknologi Modern Mengoptimalkan Pengelolaan Perpustakaan?

Berbeda dengan kebohongan biasa yang bertujuan menghindari masalah atau mendapat keuntungan, confabulation biasanya terjadi tanpa motivasi jelas dan sering menjadi indikasi awal demensia, terutama pada orang yang lebih tua.


Contoh Confabulation yang Ditunjukkan Trump

Pernyataan Trump pada 15 Juli lalu menjadi sorotan. Ia mengklaim bahwa pamannya, John Trump — seorang profesor MIT — mengajarinya soal nuklir dan bahkan pernah mengajar Ted Kaczynski, sang Unabomber. Namun, fakta berbicara lain:

  • John Trump memang profesor MIT, tetapi tidak memiliki gelar dalam bidang nuklir, kimia, atau matematika seperti yang diklaim.
  • Ted Kaczynski kuliah di Harvard, bukan MIT.
  • John Trump meninggal pada 1985, sedangkan Kaczynski baru dikenal publik sebagai Unabomber pada 1996.

Artinya, mustahil klaim Trump itu benar, karena ceritanya sendiri belum ada saat pamannya masih hidup.


Tanda-Tanda Lain yang Menunjukkan Penurunan Mental

Selain confabulation, ada gejala lain yang mengkhawatirkan, seperti ketidakmampuan memahami konsep matematika. Dalam beberapa pidato, Trump menyebut ingin menurunkan harga obat hingga “1.000 persen” — sesuatu yang secara logika tidak mungkin.

Ia juga sering salah mengingat urutan peristiwa, seperti menyalahkan mantan Presiden Obama dan James Comey atas dokumen kasus Epstein, padahal mereka tidak lagi menjabat saat Epstein ditangkap pada 2019. Bahkan, Trump sempat lupa bahwa dirinyalah yang mengangkat Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve.


Menjadi Tantangan Bagi Pendukung Setianya

Penulis artikel ini, meskipun merupakan penentang Trump sejak awal, menyampaikan bahwa situasi ini menyakitkan bagi banyak orang — terutama para pendukungnya. Menghadapi kenyataan bahwa seseorang yang dikagumi mengalami penurunan fungsi kognitif adalah hal yang berat, apalagi jika orang itu adalah seorang presiden.

Namun, kenyataan harus dihadapi, karena jabatan presiden bukan hanya simbolis — ia memegang keputusan penting yang berdampak global. Menyangkal kondisi ini justru membahayakan negara.

Baca Juga : Routing dalam Jaringan: Kunci Utama Kinerja Internet Anda


Perbandingan dengan Penanganan Isu Kognitif Biden

Meskipun Presiden Joe Biden juga pernah diisukan mengalami gejala demensia, ia memiliki tim yang mampu membantunya menjalankan tugas secara efisien. Trump, di sisi lain, tidak memiliki sistem pengamanan serupa. Para tokoh dalam lingkaran Trump seperti Pete Hegseth atau Kristi Noem dinilai tidak mungkin membatasi tindakannya atau bahkan menegurnya secara langsung.

Penulis : Tamtia Gusti Riana