Kesadaran Global Meningkat, Standar Tambang Ramah Lingkungan Jadi Prioritas
Kesadaran industri global terhadap praktik pertambangan yang berkelanjutan kini semakin tinggi. Para pelaku pasar nikel dunia semakin selektif dalam memilih pemasok bahan baku, terutama dari sektor pertambangan nikel. Hal ini mendorong perusahaan tambang di Indonesia untuk menjalani audit ketat, seperti The Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA).
CEO Landscape Indonesia, Agus P. Sari, menyatakan bahwa audit IRMA menjadi tolok ukur paling ketat dalam industri pertambangan global. Pasalnya, dewan IRMA terdiri dari berbagai elemen seperti perwakilan perusahaan tambang, pelaku industri hilir, investor, masyarakat terdampak, komunitas adat, serta aktivis lingkungan yang dikenal vokal.
baca juga : Tunggal Putra Pelatnas PBSI Ditinggal Asisten Pelatih Marleve Mainaky
“Bisa dibilang IRMA adalah audit paling ditakuti. Banyak aktivis di dalamnya, dan semua pihak punya suara. Ini membuat IRMA sangat ketat,” ujar Agus.
Audit IRMA Dianggap Kunci Menembus Pasar Internasional
Agus menegaskan pentingnya audit IRMA dengan memberikan penilaian “11 dari 10” dalam hal urgensi bagi perusahaan tambang. Menurutnya, hanya dengan IRMA-lah, perusahaan tambang Indonesia bisa diterima dalam rantai pasok industri global yang kini sangat peduli pada praktik ESG (Environmental, Social, Governance).
Industri konsumen nikel—khususnya dari sektor otomotif dan teknologi—memiliki standar tinggi soal keberlanjutan. Mereka hanya akan bermitra dengan perusahaan yang terverifikasi keberlanjutannya, salah satunya melalui audit IRMA.
“Contohnya, Tesla. Mereka hanya akan membeli nikel dari perusahaan yang sudah diaudit IRMA. Kalau tidak, mereka tidak tertarik,” jelas Agus.
Tanpa IRMA, Perusahaan Tambang Terancam Kehilangan Akses Pasar
Agus juga menambahkan bahwa perusahaan tambang yang tidak menjalani audit IRMA berisiko besar kehilangan akses ke pasar global. Pasalnya, industri pengguna nikel kini memiliki pemahaman mendalam tentang dampak lingkungan dan sosial dari aktivitas tambang.
“Kalau perusahaan tidak punya IRMA, maka mereka hanya punya pasar yang sangat sempit,” ujar Agus. Artinya, audit ini bukan sekadar formalitas, melainkan strategi kelangsungan bisnis untuk menembus pasar yang menuntut keberlanjutan.
Tingkatan Skor Penilaian IRMA: Dari Transparansi hingga IRMA 100
Tidak seperti sertifikasi lainnya, IRMA tidak mengeluarkan sertifikat, melainkan memberikan skor atau level penilaian yang menunjukkan seberapa bertanggung jawab perusahaan dalam menjalankan operasional tambangnya.
Berikut adalah empat level IRMA:
- IRMA Transparency
Tingkat paling dasar. Perusahaan harus bersedia diaudit oleh auditor yang diakui IRMA dan mempublikasikan hasilnya. - IRMA 50
Perusahaan berhasil memenuhi 50% dari standar keberlanjutan yang ditetapkan IRMA. - IRMA 75
Perusahaan telah mengimplementasikan 75% dari standar keberlanjutan. - IRMA 100
Tingkat tertinggi. Perusahaan memenuhi seluruh kriteria audit IRMA.
Skor ini menjadi parameter kredibilitas perusahaan tambang di mata pasar internasional, khususnya yang berorientasi ESG.
Audit ESG Jadi Syarat Utama Industri Global, Bukan Lagi Pilihan
Dengan tuntutan keberlanjutan yang kian tinggi dari sektor hilir global, audit IRMA menjadi alat ukur yang menentukan apakah sebuah perusahaan tambang bisa terus beroperasi dan bersaing di pasar dunia.
Audit ini bukan sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan utama untuk menjaga keberlangsungan industri tambang Indonesia di tengah perubahan paradigma pasar global.
penulis : Ginasti kurniasih trifosa