Badan pengelola indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International) akan segera mengumumkan hasil rebalancing untuk indeks MSCI Indonesia. Indeks ini merupakan indikator global yang menjadi referensi bagi banyak investor asing. Beberapa emiten berpotensi masuk dalam indeks global ini, seiring dengan rilis laporan keuangan semester I-2025 yang telah menunjukkan kinerja positif.
Baca Juga : CHAN 2024: Senegal Taklukkan Nigeria 1-0 di Laga Pembuka Berkat Gol Christian Gomis
Saham-Saham yang Berpotensi Masuk MSCI Indonesia
Sebanyak 17 perusahaan tercatat dalam indeks MSCI Indonesia, dan laporan keuangan yang dirilis menunjukkan bahwa kinerja beberapa emiten sangat menjanjikan. Salah satu emiten yang menonjol adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT), yang meraih pendapatan sebesar US$ 3,22 miliar, meningkat tajam sebesar 178,52% YoY. Laba bersihnya juga mengalami lonjakan signifikan, yakni 1.464,89% YoY, mencapai US$ 539,82 juta pada Juni 2025.
Sementara itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga mencatatkan hasil positif dengan laba bersih sebesar US$ 1,27 miliar, berbalik dari rugi bersih di periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan TPIA melonjak 237,70% YoY menjadi US$ 2,92 miliar.
Peluang Saham Prajogo Pangestu untuk Masuk MSCI
Saham-saham yang dimiliki oleh Prajogo Pangestu menjadi sorotan, terutama saham PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Kedua saham ini memiliki peluang besar untuk masuk dalam indeks MSCI Indonesia, mengingat kinerja mereka yang stabil dan prospektif.
Selain PTRO dan CUAN, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga menjadi kandidat kuat. BREN dianggap memiliki kapitalisasi terbesar dan likuiditas yang cukup, meskipun pernah ada isu kepemilikan sebelumnya. Menurut Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, jika BREN masuk ke dalam MSCI, hal ini bisa menyebabkan peningkatan likuiditas serta arus dana asing yang masuk melalui MSCI referenced ETF atau fund.
Kinerja BREN yang Menjanjikan
Menurut Prasetya Gunadi, Head of Research Samuel Sekuritas, untuk dapat masuk dalam indeks MSCI, saham BREN perlu diperdagangkan di harga sekitar Rp 9.000 per saham. Saat ini, harga BREN berada di level Rp 7.075, dan masih ada ruang untuk kenaikan harga. Jika BREN berhasil masuk, hal ini bisa memberikan efek positif berupa valuasi premium.
Peluang Saham DSSA untuk MSCI Indonesia Big Cap
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga berpotensi masuk ke dalam MSCI Indonesia Big Cap. Salah satu faktor pendorong adalah nilai Free-Float Market Capitalization (FFMC) yang mencapai US$ 6,6 miliar, ditambah dengan Average Daily Trading Value (ADTV) sebesar US$ 7,2 juta per hari. DSSA juga melampaui ambang batas Annual Traded Value Ratio (AVTR) sebesar 15%, yang menjadi salah satu syarat untuk masuk dalam indeks MSCI.
Baca Juga : Monitor Gaming Terbaik 2024: Visual Gila, Performa Juara!
SSIA Masuk MSCI Small Cap Index
Selain DSSA, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) diperkirakan dapat masuk dalam MSCI Small Cap Index. Lonjakan harga saham SSIA sebagian dipicu oleh akuisisi 5,89% saham oleh Grup Djarum, yang telah mendorong kapitalisasi pasar free float SSIA. Kapitalisasi pasar SSIA kini mencapai US$ 618 juta, jauh melampaui ambang batas US$ 250 juta, serta rata-rata nilai transaksi harian mencapai US$ 1,8 juta, yang juga memenuhi persyaratan minimum untuk MSCI.
Penulis : Tamtia Gusti Riana