MSCI Akan Umumkan Peninjauan Indeks
Pada 7 Agustus 2025, Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan mengumumkan hasil peninjauan indeks mereka, dengan beberapa saham yang diperkirakan akan masuk dalam indeks MSCI. Pengumuman ini menjadi momen yang ditunggu investor di Bursa Efek Indonesia (BEI), karena saham yang masuk MSCI dapat mengalami lonjakan permintaan dari manajer dana yang mengikuti indeks ini.
Baca Juga : Saham NCKL Melejit 18% Didukung Aksi Beli J.P. Morgan dan Sentimen ESG
Apa Itu MSCI dan Dampaknya pada Saham?
MSCI adalah penyedia indeks pasar saham global yang sangat berpengaruh, dengan banyak institusi keuangan besar yang menggunakannya sebagai acuan dalam membentuk portofolio investasi. Ketika sebuah saham masuk ke dalam indeks MSCI, permintaan terhadap saham tersebut biasanya meningkat tajam karena akan dibeli oleh manajer dana yang mengikuti indeks tersebut.
Syarat Ketat Masuk MSCI
Untuk dapat masuk ke dalam indeks MSCI, saham harus memenuhi beberapa syarat ketat, antara lain:
- Likuiditas: Saham harus aktif diperdagangkan dengan volume yang memenuhi ketentuan.
- Kapitalisasi Pasar Free Float: Saham dengan kapitalisasi pasar yang besar memiliki peluang lebih tinggi untuk masuk indeks.
- Kepemilikan Saham yang Tersebar: Saham dengan kepemilikan yang terkonsentrasi pada satu pihak akan dikeluarkan dari pertimbangan.
Pengumuman hasil evaluasi MSCI kali ini akan mulai berlaku efektif pada 27 Agustus 2025.
Saham Berpotensi Masuk MSCI: BREN, PTRO, CUAN, DSSA, SSIA
Sejumlah saham Indonesia diprediksi berpotensi masuk ke dalam indeks MSCI, baik di MSCI Indonesia Big Cap Index maupun MSCI Small Cap Index. Beberapa saham yang sudah masuk radar antara lain:
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
- PT Petrosea Tbk (PTRO)
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
Namun, riset terbaru dari Samuel Sekuritas juga menambahkan dua saham baru yang memiliki prospek kuat untuk masuk MSCI, yaitu:
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA): Dengan kapitalisasi pasar free float mencapai US$ 6,6 miliar, DSSA sangat berpotensi untuk masuk dalam MSCI Indonesia Big Cap Index. Rata-rata transaksi harian selama 12 bulan terakhir mencapai US$ 7,2 juta, melebihi batas minimum yang ditetapkan.
- PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA): Setelah mengalami lonjakan harga saham, SSIA berpotensi masuk MSCI Small Cap Index. Kapitalisasi pasar free float SSIA saat ini mencapai US$ 618 juta, jauh di atas ambang batas MSCI, sementara rata-rata transaksi harian saham ini juga telah memenuhi syarat minimum.
Prospek Positif untuk DSSA dan SSIA
Analis Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi dan Ahnaf Yassar, memprediksi bahwa DSSA dan SSIA memiliki peluang besar untuk bergabung dengan MSCI. Masuknya saham-saham ini ke dalam indeks MSCI diperkirakan dapat meningkatkan visibilitas mereka di mata investor global, serta berpotensi menarik aliran dana dari investor pasif yang mengikuti indeks.
Saham Lain yang Berpotensi Masuk MSCI
Selain DSSA dan SSIA, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga dinilai memiliki peluang serupa untuk masuk ke dalam MSCI, berkat kapitalisasi pasar free float dan likuiditas harian yang mencukupi.
Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan Peluang Trading
Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga disebut-sebut memiliki peluang untuk masuk MSCI Small Cap Index, berkat kapitalisasi pasar free float yang besar. Meskipun harga saham BRMS harus mencapai kisaran Rp 490–Rp 500 per saham untuk memenuhi syarat minimum kapitalisasi pasar, saham ini cukup aktif diperdagangkan, dengan nilai transaksi harian mencapai rekor tertinggi sebesar Rp 1,2 triliun.
Baca Juga : Bagaimana Teknologi Modern Mengoptimalkan Pengelolaan Perpustakaan?
Potensi Pengaruh MSCI terhadap IHSG
Rully Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas, melihat bahwa rebalancing MSCI yang akan terjadi pada Agustus 2025 dapat mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), karena adanya aliran dana positif yang masuk ke saham-saham yang masuk dalam MSCI.
Penulis : Tamtia Gusti Riana