MSCI Akan Umumkan Hasil Peninjauan Indeks
Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menerima kabar penting pada pekan depan, yakni pengumuman hasil peninjauan indeks oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 7 Agustus 2025. Beberapa saham Indonesia diprediksi berpeluang masuk dalam daftar indeks MSCI, yang bisa memicu lonjakan permintaan dan menarik dana asing.
Baca Juga : Operasi Bersih Kuantan: Polda Riau Musnahkan 24 Rakit PETI dan Tangkap 5 Pelaku
Apa Itu MSCI dan Dampaknya bagi Saham?
MSCI adalah penyedia indeks pasar saham global yang banyak digunakan oleh investor institusi. Saham yang berhasil masuk dalam indeks MSCI biasanya mengalami lonjakan permintaan karena akan dibeli oleh manajer dana yang mengikuti indeks tersebut. Oleh karena itu, masuknya saham Indonesia dalam MSCI dapat meningkatkan likuiditas dan daya tarik pasar saham Indonesia di mata investor global.
Syarat Ketat Masuk MSCI
Untuk masuk dalam indeks MSCI, sebuah saham harus memenuhi beberapa kriteria ketat, antara lain:
- Likuiditas: Saham harus memiliki volume perdagangan yang cukup tinggi.
- Kapitalisasi Pasar Free Float: Saham harus memiliki kapitalisasi pasar free float yang besar.
- Diversifikasi Kepemilikan Saham: Kepemilikan saham tidak boleh terkonsentrasi pada satu pihak saja.
Peninjauan hasil indeks MSCI kali ini akan mulai berlaku pada 27 Agustus 2025.
Prediksi Saham yang Berpeluang Masuk MSCI
Beberapa saham Indonesia sudah masuk radar MSCI, termasuk saham milik Prajogo Pangestu, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Namun, riset terbaru dari Samuel Sekuritas menambahkan dua saham baru yang berpotensi masuk ke dalam indeks MSCI, yaitu:
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA): Dengan kapitalisasi pasar free float sebesar US$ 6,6 miliar, DSSA jauh melampaui ambang batas minimum MSCI sebesar US$ 1,5 miliar. Rata-rata transaksi harian saham DSSA juga mencapai US$ 7,2 juta, melebihi batas minimum yang ditetapkan MSCI.
- PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA): Dengan lonjakan harga saham akibat akuisisi 5,89% saham oleh Grup Djarum, kapitalisasi pasar free float SSIA mencapai US$ 618 juta, yang jauh di atas ambang batas MSCI sebesar US$ 250 juta. Rata-rata transaksi harian SSIA juga tercatat mencapai US$ 1,8 juta, melebihi ketentuan minimum MSCI.
Prospek Positif untuk DSSA dan SSIA
Analis Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi dan Ahnaf Yassar, menilai bahwa DSSA memiliki peluang besar untuk masuk ke dalam MSCI Indonesia Big Cap Index, sementara SSIA diperkirakan akan masuk ke dalam MSCI Small Cap Index. Masuknya saham-saham ini ke dalam indeks MSCI berpotensi menarik aliran dana dari investor pasif dan meningkatkan visibilitas mereka di mata investor global.
Baca Juga : Perpustakaan Modern: Teknologi yang Mempermudah Pengguna dan Pustakawan
Saham Lain yang Berpotensi Masuk MSCI
Selain DSSA dan SSIA, Rully Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas, juga menilai bahwa saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memiliki peluang serupa untuk masuk ke dalam MSCI, mengingat kapitalisasi pasar free float dan likuiditas harian yang mencukupi.
Penulis : Tamtia Gusti Riana