Segala Sesuatu di Dunia Ini Adalah Kesia-siaan
Dalam Kitab Pengkhotbah, kita diajak untuk merenungkan tentang realitas kehidupan yang seringkali dipenuhi jerih payah, pencarian akan hikmat, dan usaha tanpa akhir. Namun, pada akhirnya, semua hal tersebut disebut sebagai kesia-siaan.
Baca juga: Tarif Listrik PLN per kWh Terbaru Berlaku Mulai 4 Agustus 2025
“Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, sungguh kesia-siaan belaka! Segala sesuatu adalah sia-sia.”
(Pengkhotbah)
Pesan ini mengajak kita menyadari bahwa seberapa besar pun manusia mengejar kebijaksanaan, kekayaan, dan pengetahuan, semuanya tidak akan bertahan lama. Apa yang kita kumpulkan sepanjang hidup pada akhirnya harus kita tinggalkan kepada orang lain, bahkan kepada mereka yang tidak ikut bekerja keras untuk mendapatkannya.
Pencarian Manusia Tak Selalu Memberi Ketenteraman
Pengkhotbah juga menyinggung keletihan batin dan kesusahan hati yang dialami manusia dalam bekerja dan mengejar keinginan hati. Bahkan pada malam hari, ketika seharusnya menjadi waktu beristirahat, hati manusia tetap tidak tenang. Ini menggambarkan betapa hampa dan sia-sianya kehidupan tanpa makna yang kekal.
"Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati; bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Ini pun adalah kesia-siaan."
Mazmur 90: Tempat Perlindungan dalam Tuhan
Sebagai respons atas renungan ini, kita diingatkan melalui Mazmur 90 bahwa hanya Tuhanlah tempat perlindungan sejati yang kekal dan tak berubah, dari generasi ke generasi.
Refrein Mazmur:
"Tuhan, Engkaulah tempat perlindungan kami turun-temurun."
Dalam mazmur ini, pemazmur menggambarkan ketidakkekalan hidup manusia dibandingkan dengan kekekalan Tuhan:
- Manusia kembali menjadi debu hanya dengan satu perintah Tuhan.
- Seribu tahun di mata Tuhan sama seperti satu hari kemarin atau satu giliran jaga malam.
Hiduplah Bijaksana, Gunakan Waktu dengan Arif
Sebagai penutup, kita diajak untuk memandang hidup ini dengan kebijaksanaan, bukan semata-mata mengejar hal duniawi, tapi juga membangun relasi yang benar dengan Tuhan. Kesadaran akan singkatnya hidup seharusnya menjadikan kita lebih bijak dalam mengambil keputusan dan menjalani setiap hari.
Baca juga: "Membangun Jaringan LAN untuk Keperluan Bisnis: Tips dan Trik"
Doa Penutup
Ya Tuhan, ajarlah kami menghitung hari-hari kami,
agar kami memperoleh hati yang bijaksana.
Berilah kami sukacita di pagi hari dengan kasih setia-Mu,
dan teguhkanlah pekerjaan tangan kami, ya Tuhan. Amin.
Penulis: Nazwatun nurul inayah