Logo Universitas Teknokrat Indonesia

Review "Weapons": Ketegangan dan Horor dalam Masyarakat Suburban yang Terkoyak

Kategori: hiburan
Gambar untuk Review "Weapons": Ketegangan dan Horor dalam Masyarakat Suburban yang Terkoyak

Zach Cregger mengarahkan "Weapons", film horor misteri yang menyelami ketakutan dan amarah dalam komunitas Amerika yang tampak stabil, tetapi dihantam oleh hilangnya 17 anak secara bersamaan.

Baca juga :Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,12% di Kuartal II 2025, Lampaui Ekspektasi

Pembukaan yang Menarik: Kehilangan 17 Anak secara Misterius

Pada pukul 2:17 pagi, 17 anak hilang begitu saja. Mereka bangun dari tempat tidur, membuka pintu rumah mereka, dan berlari ke malam, seperti pesawat kecil yang terbang rendah di atas halaman-halaman rumah. Semua anak yang hilang adalah siswa di kelas tiga Justine Gandy, namun satu anak, Alex, selamat tanpa penjelasan yang jelas. Ini adalah permulaan film yang penuh intrik dan misteri, yang semakin membingungkan oleh keputusan Zach Cregger untuk membiarkan seorang gadis lokal menggambarkan premis film yang tampaknya supernatural.

Ketidakpastian dan Misteri yang Meningkat

Dalam gaya yang serupa dengan film horor ambigu seperti "Hereditary" dan "Picnic at Hanging Rock", "Weapons" memberikan kesan bahwa banyak peristiwa yang terjadi tidak akan pernah sepenuhnya dijelaskan. Narator yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan bahwa "polisi dan orang-orang terpenting di kota ini... tidak dapat menyelesaikannya," sebuah kalimat yang menyiapkan kita untuk misteri yang tetap tak terpecahkan.

Kota yang Kacau: Ketegangan Antara Orang Tua dan Guru

Josh Brolin berperan sebagai Archer Graff, seorang ayah yang anaknya hilang. Dia berdiri di pertemuan sekolah dan menuduh Justine (diperankan oleh Julia Garner) atas hilangnya anak-anak mereka. Ini mengingatkan kita pada ketegangan nyata yang terjadi ketika orang tua merasa curiga terhadap sistem pendidikan, ketakutan akan ideologi yang bisa mempengaruhi anak-anak mereka. Ketakutan ini menjadi salah satu kekuatan utama yang mendorong alur cerita "Weapons".

Perspektif yang Berbeda: Cerita Melalui Beberapa Karakter

Alih-alih mengikuti satu karakter utama sepanjang film, Cregger membagi misteri ini menjadi beberapa bagian, masing-masing dengan perspektif unik. Mulai dari Justine si guru, orang tua Archer Graff, seorang polisi (Alden Ehrenreich), dan administrator sekolah (Benedict Wong). Struktur narasi yang terpecah ini membangun ketegangan, di mana setiap bagian menyajikan sudut pandang yang berbeda dan memperjelas teka-teki yang lebih besar.

Keterikatan Kekerasan dan Konsekuensinya

Seperti dalam film sebelumnya, "Barbarian", kekerasan dalam "Weapons" semakin meningkat saat cerita berkembang. Setiap orang dalam komunitas ini dapat menjadi target atau senjata, dan Cregger menunjukkan dengan cerdik bagaimana berbagai objek bisa menjadi berbahaya di tangan yang salah.

Karakter Unik: Amy Madigan sebagai "Aunt Gladys"

Salah satu kehadiran yang mencuri perhatian adalah Amy Madigan sebagai Aunt Gladys, karakter yang muncul lebih dari setengah jalan menuju film. Dengan riasan yang membuatnya tampak seperti seorang badut setan, Gladys membawa humor yang memalukan dan ketidaknyamanan, menciptakan karakter yang menonjol dengan kualitas mengganggu.

Dari Ketegangan Menjadi Campy: Perubahan Nada Film

Selama lebih dari satu jam, "Weapons" menjaga nada serius dan tegang, namun dengan kehadiran Gladys, film ini memasuki wilayah yang lebih campy dan tidak terduga. Dengan mengembangkan cerita menjadi lebih intens, Cregger memperkenalkan karakter dewasa yang menjadi pembunuh karena kekuatan sugestif yang sama yang mendorong anak-anak untuk melarikan diri.

Baca juga :Rektor UTI mendapatkan ucapan Selamat dari Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) RI

Kesimpulan: Akhir yang Memecah Ketegangan

Meskipun film ini membangun ketegangan dan misteri yang menarik, akhir dari "Weapons" membawa penjelasan yang mengurangi sebagian besar daya tarik film. Namun, banyak penonton akan menikmati klimaks yang gelap dan komedik, dengan Cregger berhasil menciptakan cerita yang menyeramkan, penuh kegilaan, dan seperti cerita rakyat yang kelam dari Brothers Grimm.

Penulis : Naysila pramuditha azh zahra