Pergantian Manajemen di Bank Mandiri
Bank Mandiri (BMRI) baru saja menyelesaikan RUPS Luar Biasa yang mengangkat beberapa perubahan penting dalam manajemennya. Salah satu keputusan utama adalah pergantian posisi CEO, yang sebelumnya dipegang oleh Darmawan Junaidi dan digantikan oleh Riduan, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil CEO. Selain itu, Henry Panjaitan diangkat sebagai Wakil CEO baru, menggantikan posisi Riduan. Tim manajemen juga mengalami rotasi, dengan Timothy Utama kini menjabat sebagai Direktur Operasional setelah sebelumnya memegang posisi sebagai Direktur TI. Meskipun terjadi perubahan dalam kepemimpinan, keputusan ini dianggap netral karena penggantian CEO berasal dari internal perusahaan.
Baca Juga :Revolusi Teknologi Modern Perpustakaan: Akses Lebih Cepat dan Mudah
Livin dan Perbaikan Kualitas Aset: Pencapaian Positif BMRI
Salah satu pencapaian penting BMRI di bawah kepemimpinan CEO sebelumnya adalah peluncuran super app Livin pada 2021. Keputusan ini membedakan BMRI dari pesaingnya, seperti BRI yang memilih mengembangkan bank digital melalui Bank Raya dan BNI dengan HiBank. Livin berhasil memberikan kontribusi signifikan dalam dua area utama:
- Pertumbuhan Tabungan yang Eksponensial: Livin berhasil mencatatkan pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 11% dari FY21 hingga FY24, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bank besar lainnya yang hanya mencapai 3% hingga 5%.
- Pendapatan Berbasis Komisi yang Meningkat: Pendapatan dari Livin menyumbang sekitar 6,2% dari pendapatan non-bunga dan 1,8% dari total pendapatan bank. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan komisi dari BRIMO milik BRI yang hanya menyumbang 5,4% dari pendapatan non-bunga.
Di samping itu, BMRI juga berhasil meningkatkan fokus pada sektor wholesale banking melalui ekosistem rantai pasok dan UMKM, yang tercermin dalam CoC (Cost of Credit) yang lebih rendah dan LAR (Loan at Risk) yang lebih terkendali dibandingkan dengan bank BUMN lainnya.
Risiko Terkait Pertumbuhan Kredit yang Tinggi
Meskipun ada pencapaian yang signifikan, BMRI harus waspada terhadap risiko terkait pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dari rata-rata industri. Sejak FY21, kredit BMRI tumbuh dengan CAGR 16,7%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industri (10,7%) dan bank besar lainnya (10,5%). Kami khawatir, jika tren ini terus berlanjut, BMRI bisa menghadapi risiko kenaikan CoC dan penurunan kualitas aset, terutama di tengah potensi pelambatan ekonomi yang terjadi di masa depan.
Baca Juga :
Divestasi BRIS: Risiko yang Membayangi Pasca RUPS Luar Biasa
Salah satu tantangan terbesar yang akan dihadapi oleh BMRI pasca RUPS Luar Biasa adalah divestasi BRIS. Selama kepemimpinan CEO sebelumnya, BMRI berhasil meningkatkan premi P/BV-nya terhadap BBNI dari rata-rata 48,5% pada 2019-2020 menjadi 64,7% pada periode 2021-2024. Diskon terhadap BBRI juga menyempit menjadi 25,5% dibandingkan dengan 38,8% pada periode yang sama, menunjukkan tingkat kepercayaan investor yang tinggi terhadap strategi CEO sebelumnya.
Penulis : Tamtia Gusti Riana