Perpaduan Seni, Budaya, dan Pengetahuan Tradisional
Taman Kali Kadia di Kendari, Sulawesi Tenggara, menjadi saksi dibukanya pameran instalasi bertajuk Sagu Natura Kultura, sebuah inisiatif dari IDEA Project yang mengangkat kekayaan tradisi lokal melalui seni instalasi. Acara pembukaan semakin meriah dengan penampilan seniman gambus yang membawakan nuansa khas budaya Nusantara.
Baca juga :Ahok dan Megawati Buka Suara Soal Ijazah Jokowi, Kader Senior PDIP Desak Pengusutan Tuntas
Mengangkat Nilai Budaya dalam Proses Pembuatan Sagu
Pameran ini menelusuri kembali jejak pengetahuan tradisional dalam proses pengolahan sagu, mulai dari alat-alat sederhana yang digunakan oleh leluhur hingga teknik-teknik warisan turun-temurun. Melalui instalasi visual yang imersif, pengunjung diajak memahami secara langsung bagaimana sagu—sebagai salah satu bahan pangan lokal—diolah secara tradisional.
Edukasi Bagi Generasi Milenial
Tujuan utama dari pameran Sagu Natura Kultura adalah mengedukasi generasi muda, khususnya generasi milenial, tentang pentingnya pelestarian budaya dan kearifan lokal. Melalui pendekatan visual dan interaktif, proses pembuatan sagu tidak hanya dipahami secara teknis, tetapi juga dimaknai sebagai bagian dari identitas budaya yang harus dijaga bersama.
Dukungan Komunitas dan Seniman Lokal
Proyek ini juga melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas seni lokal dan budayawan, yang turut menyumbangkan karya serta wawasan dalam penyusunan pameran. Kolaborasi ini menjadi bentuk nyata bahwa pelestarian budaya bisa berjalan seiring dengan kreativitas seni kontemporer.
Baca juga :Wisuda Periode I 2025 Universitas Teknokrat: Cetak Generasi Siap Sambut Indonesia Emas
Sagu: Lebih dari Sekadar Pangan Lokal
Selain sebagai makanan pokok di berbagai wilayah Indonesia Timur, sagu juga merepresentasikan keberlanjutan dan kedekatan masyarakat dengan alam. Melalui pameran ini, pengunjung diajak untuk merenungkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam budaya agraris dan betapa pentingnya menjaga keterhubungan dengan lingkungan.
Penulis : Naysila pramuditha azh zahra