Logo Universitas Teknokrat Indonesia

Saham BBCA Melemah, Asing Net Sell Rp 18 Triliun: Peluang Cuan di Harga Diskon?

Kategori: saham
Gambar untuk Saham BBCA Melemah, Asing Net Sell Rp 18 Triliun: Peluang Cuan di Harga Diskon?

Saham BCA Tertekan Tiga Hari Berturut-Turut

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat melemah 1,19% ke level Rp 8.275 pada perdagangan Kamis (31 Juli 2025). Harga saham sempat bergerak di kisaran Rp 8.250 hingga Rp 8.375. Dalam satu hari, sebanyak 206,01 juta lembar saham BBCA berpindah tangan dalam 53.140 transaksi, dengan total nilai mencapai Rp 1,71 triliun.

Baca Juga : AC Milan Tampil Ganas, Cetak 16 Gol dalam Empat Laga Pramusim

Tekanan jual asing terlihat signifikan, di mana investor asing mencatatkan net sell senilai Rp 975 miliar hanya dalam satu hari. Bahkan, sepanjang tahun berjalan (year-to-date), aksi jual asing pada saham BBCA mencapai Rp 18,6 triliun — menjadikannya saham dengan net sell tertinggi dari investor asing.

Saham BBCA Dianggap Sedang Diskon, Ini Alasannya

Meski harga saham terus tertekan, secara valuasi, BBCA justru dinilai sedang dalam posisi menarik. Saat ini, rasio price to book value (PBV) BBCA tercatat sebesar 3,9 kali — lebih rendah dari rata-rata tiga tahun terakhir yang berada di angka 4,19 kali (-2 standard deviation).

Selain itu, rasio price earning ratio (PER) BBCA saat ini berada di level 17,9 kali trailing twelve months (TTM), juga lebih rendah dibanding rata-rata tiga tahun terakhir yang berada di angka 18,66 kali. Ini mengindikasikan bahwa saham BBCA sedang berada dalam kondisi undervalued atau ‘diskon’ bagi para investor jangka panjang.

Laba BCA Naik 8%, Kinerja Keuangan Masih Sejalan Ekspektasi

Dari sisi fundamental, Bank Central Asia membukukan laba bersih sebesar Rp 14,9 triliun pada kuartal kedua 2025 atau naik 6% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 5% secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq). Dengan begitu, laba bersih selama semester pertama 2025 mencapai Rp 29 triliun, atau tumbuh 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja ini sejalan dengan proyeksi konsensus analis, di mana laba semester I setara dengan 50% dari estimasi laba sepanjang tahun 2025. Pada periode yang sama tahun lalu, realisasi laba mencapai 49% dari target tahunan.

Pertumbuhan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) juga positif, yakni sebesar 6% yoy di kuartal kedua dan 7% yoy secara kumulatif semester pertama. Ini ditopang oleh pertumbuhan kredit sebesar 13% yoy hingga Juni 2025.

Strategi Manajemen dan Proyeksi Kredit

Manajemen BCA tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan kredit di kisaran 6%–8% sepanjang 2025. Meskipun pertumbuhan kredit semester I ditopang lonjakan pinjaman jangka pendek di pasar uang (money market), pendekatan manajemen tetap berhati-hati dalam ekspansi ke depan.

Sementara itu, pendapatan non-bunga (Non-Interest Income/Non-II) tumbuh solid sebesar 13% yoy di kuartal kedua dan 11% yoy sepanjang semester I. Beban operasional (opex) juga terkendali dengan pertumbuhan 8% yoy pada kuartal kedua dan 5% yoy secara kumulatif.

Mandiri Sekuritas: Saham BBCA Layak Beli, Target Rp 11.000

Mandiri Sekuritas mencatat bahwa kinerja BBCA di semester I 2025 cukup solid dengan pertumbuhan laba 8% yoy dan Return on Equity (ROE) yang stabil di angka 23%. Namun, manajemen menaikkan estimasi biaya kredit menjadi 0,3%–0,5% sebagai langkah antisipatif terhadap risiko ekonomi makro.

Baca Juga : 5 Kesalahan Fatal Memilih Software Bisnis (Dan Cara Menghindarinya).

Meskipun kondisi pasar masih penuh tantangan, Mandiri Sekuritas tetap merekomendasikan beli saham BBCA dengan target harga Rp 11.000 per saham. Target ini mencerminkan potensi kenaikan sekitar 32,93% dari harga penutupan terakhir.

Penulis : Tamtia Gusti Riana