CEO OpenAI Ungkap Kekhawatiran Usai Rilis GPT-5
Sam Altman, CEO OpenAI, mengungkapkan perasaan campur aduk usai peluncuran ChatGPT-5, model AI terbaru yang disebut sebagai lompatan besar dalam dunia teknologi. Dalam sebuah wawancara, Altman menyatakan bahwa dirinya merasa "tidak berguna" di tengah kemajuan luar biasa yang dicapai tim teknis OpenAI.
baca juga : Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Nasrullah Yusuf Ikuti Munas Aptisi VII di Bandung
Kekuatan GPT-5 Diibaratkan seperti Proyek Manhattan
Dalam pernyataannya, Altman membandingkan kekuatan dan potensi ChatGPT-5 dengan Proyek Manhattan—proyek pengembangan bom atom oleh AS selama Perang Dunia II. Menurutnya, AI generatif saat ini memiliki dampak transformatif yang begitu besar, hingga bisa mengubah peradaban secara fundamental, layaknya senjata nuklir pada masa lalu.
“What have we done?” – ungkap Altman dalam momen reflektif yang menggambarkan besarnya tanggung jawab yang kini diemban oleh para pelaku teknologi.
Kecanggihan GPT-5 Menuai Reaksi Global
GPT-5 mendapat banyak pujian karena kemampuannya dalam memahami konteks, menjawab dengan lebih manusiawi, serta mendukung multimodal input seperti gambar, suara, dan teks. Namun di balik itu, muncul pula kekhawatiran tentang bagaimana AI ini akan digunakan—apakah untuk kebaikan atau justru berpotensi disalahgunakan.
Refleksi Etis di Tengah Kemajuan Teknologi
Altman menegaskan pentingnya pengawasan etis dalam pengembangan kecerdasan buatan. Ia menyebut bahwa meski kagum dengan pencapaian timnya, ia juga merasa takut, tidak siap, dan tidak relevan di tengah laju inovasi yang sangat cepat.
Tanggung Jawab Moral Dunia Teknologi
Pernyataan Altman menyoroti dilema moral yang kini dihadapi industri AI global. Bagaimana teknologi yang sangat kuat bisa digunakan secara bijaksana, dan siapa yang bertanggung jawab jika terjadi penyalahgunaan?
penulis : Dylan Fernanda