Logo Universitas Teknokrat Indonesia

Sosok Diplomat Arya Daru Pangayunan di Mata Rekan: Pekerja Keras dan Inspiratif

Kategori: game
Gambar untuk Sosok Diplomat Arya Daru Pangayunan di Mata Rekan: Pekerja Keras dan Inspiratif

Apsifor Ungkap Hasil Autopsi Psikologis Arya Daru

Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) mengungkap kepribadian mendiang diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan (39), berdasarkan autopsi psikologis. Ketua Umum Apsifor, Nathanael E. J. Sumampouw, menjelaskan bahwa Arya dikenal sebagai sosok bertanggung jawab, pekerja keras, suportif, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Baca juga: Meta menunjuk Shengjia Zhao dari OpenAI sebagai kepala ilmuwan Lab Superintelijen AI

Tidak Ada Indikasi Bullying di Tempat Kerja

Berdasarkan temuan Apsifor, tidak ditemukan bukti adanya perundungan (bullying) terhadap Arya di lingkungan kerjanya. Justru, Arya dikenal sebagai rekan kerja yang memberi semangat, tempat bertanya, dan inspiratif bagi junior dan kolega lainnya.

“Di mata atasannya, almarhum dipandang sebagai staf yang sangat bisa diandalkan,” ujar Nathanael dalam konferensi pers pada Selasa, 29 Juli 2025.

Hambatan Emosional dan Internalisasi Tekanan

Meski dikenal positif, Arya ternyata mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosi negatif, terutama dalam menghadapi tekanan tinggi. Ia cenderung menyimpan dan menginternalisasi perasaan negatif, yang berdampak pada cara pandangnya terhadap diri sendiri, lingkungan, dan masa depan.

“Karakter menahan emosi ini membuat almarhum sulit mengakses dukungan psikologis, baik dari lingkungan maupun tenaga profesional,” jelas Nathanael.

Akumulasi Tekanan dan Keputusan Tragis

Apsifor menyimpulkan bahwa akumulasi tekanan emosional dan kesulitan mengelola stres menjadi faktor yang mempengaruhi keputusan tragis Arya di akhir hayatnya.

“Proses pengambilan keputusan almarhum terkait cara kematian dipengaruhi oleh tekanan hidup yang terakumulasi,” tambah Nathanael.

Temuan Digital Forensik: Indikasi Bunuh Diri

Hasil penyelidikan Digital Forensik Polri yang dipaparkan oleh Ipda Saji Purwanto mengungkap adanya dua segmen komunikasi digital yang menunjukkan niat bunuh diri:

1. Segmen Pertama: Juni–Juli 2013

Isi komunikasi melalui email menunjukkan alasan keinginan mengakhiri hidup, dikirim dari akun email pribadi daru_j@yahoo.com ke lembaga amal yang menangani kesehatan mental.

2. Segmen Kedua: September–Oktober 2021

Terdapat 9 segmen email yang menyampaikan intensi serupa, di mana Arya semakin kuat ingin melakukan bunuh diri karena masalah pribadi yang berat.

Riwayat Perangkat: Terakhir Aktif pada 2022

Perangkat komunikasi milik Arya pertama kali aktif pada 29 Juni 2019, dan terakhir digunakan pada 27 September 2022. Semua data ini telah diserahkan ke penyidik untuk penyelidikan lebih lanjut.

Baca juga: Digital Marketing: Solusi Cerdas Tingkatkan Omzet Harian


Kesimpulan
Kasus meninggalnya Arya Daru Pangayunan membuka diskusi penting soal kesehatan mental, terutama di kalangan profesional yang tampak kuat di luar, namun menyimpan beban berat di dalam. Dukungan lingkungan dan kesadaran akan pentingnya akses layanan psikologis menjadi kunci pencegahan kejadian serupa di masa depan.

Penulis: Nazwatun nurul inayah