Pemerintah Alokasikan Rp750 Triliun untuk Pendidikan di Tahun 2025
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan mengalokasikan sebesar 20 persen dari total APBN 2025 atau sekitar Rp750 triliun untuk sektor pendidikan. Hal ini disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam sambutannya di acara Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 yang berlangsung di Sabuga, Kota Bandung, Kamis (7/8/2025).
Menurut Sri Mulyani, anggaran pendidikan tersebut didesain untuk memperkuat seluruh ekosistem pendidikan nasional, mencakup semua jenjang dan jenis pendidikan — mulai dari PAUD, madrasah, sekolah negeri maupun swasta, hingga perguruan tinggi dan pusat riset.
baca:Penampakan Wakil Panglima OPM yang Tewas dalam Kontak Tembak di Papua Pegunungan
Tiga Klaster Utama Alokasi Anggaran Pendidikan
Sri Mulyani memaparkan bahwa anggaran pendidikan APBN 2025 dibagi ke dalam tiga klaster utama, yaitu:
1. Klaster Pertama: Dukungan Langsung untuk Siswa dan Mahasiswa
Klaster ini mencakup program bantuan pendidikan langsung, seperti Program Indonesia Pintar (PIP) untuk pelajar dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah untuk mahasiswa. Selain itu, anggaran ini juga digunakan untuk mendanai Biaya Operasional Sekolah (BOS) dan investasi jangka panjang dalam pengembangan sumber daya manusia sejak usia dini (PAUD).
“Bahkan sekarang kita sudah mulai dari anak usia di bawah lima tahun. Ini bagian penting dari investasi human capital,” tegas Sri Mulyani.
2. Klaster Kedua: Kesejahteraan dan Profesionalisme Guru serta Dosen
Fokus klaster kedua adalah pada pemberian gaji, tunjangan kinerja, dan pelatihan untuk guru dan dosen, termasuk tenaga pengajar honorer dan profesor. Ia juga menanggapi keluhan tentang rendahnya gaji guru yang kerap muncul di media sosial, dengan menyebut bahwa ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengelolaan keuangan negara.
“Apakah semuanya harus ditanggung oleh keuangan negara, atau bisa ada partisipasi dari masyarakat?” ungkapnya.
3. Klaster Ketiga: Pembangunan Infrastruktur Pendidikan
Klaster ini dialokasikan untuk revitalisasi fasilitas pendidikan, mulai dari rehabilitasi sekolah rusak, pembangunan sekolah rakyat untuk anak-anak kurang mampu, hingga pengembangan kampus, laboratorium riset, dan rumah sakit pendidikan.
“Bapak Presiden meminta revitalisasi sekolah-sekolah yang rusak dan pembangunan kampus serta rumah sakit pendidikan juga menjadi prioritas,” ujar Sri Mulyani.
Pendidikan Harus Berdasarkan Prestasi, Bukan Sekadar Pemerataan
Menyoroti pentingnya kinerja dan prestasi dalam pendidikan, Sri Mulyani menyebut bahwa penghargaan terhadap intelektualitas dan pencapaian adalah hal yang esensial untuk mendorong kemajuan bangsa.
“Apakah kita menghargai pencapaian atau sekadar membagikan uang demi keadilan? Ini adalah perdebatan yang harus dikaji oleh kalangan akademik,” katanya.
Ia juga menyinggung peran Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, yang kini turut menangani program pertukaran dosen — hal yang menurutnya bisa menjadi langkah strategis menuju inovasi global, bahkan meraih penghargaan seperti Nobel.
baca:Wakil Rektor Teknokrat Mahathir Muhammad, Di Balik Layar Reuni Akbar
📚 Dukung Gerakan Literasi Nasional
Sri Mulyani juga menekankan pentingnya literasi sebagai kunci pembangunan pendidikan. Ia mengajak seluruh pihak untuk berkontribusi, termasuk melalui program distribusi buku ke pelosok negeri seperti Ekspedisi Kata ke Nyata yang bekerja sama dengan Kompas.com dan Kitabisa.
"Satu buku bisa membuka ribuan mimpi" — mari bantu anak-anak Indonesia bermimpi lebih tinggi dengan akses buku yang lebih luas.
penulis: inziria