Bergabunglah dengan Victoria Grech, Kepala AI di TAAP, saat dia mengeksplorasi masa depan AI, aplikasi dunia nyata, dan mengapa sistem AI harus belajar berpikir bersama kita – bukan untuk kita. Dalam presentasinya yang berjudul "Beyond the Model: Architecting Multi-Agent AI for Human-Aligned Futures," Victoria memberikan wawasan mendalam tentang AI, mencampurkan elemen teknis, filosofi, dan saran praktis dari pengalaman langsungnya dalam pengembangan teknologi AI.
baca Juga:Pintu Kupu Tarung Kayu Jati 2025 Bikin Rumah Makin Mewah
Menghadirkan Perspektif Baru dalam Hubungan dengan AI
Victoria memulai presentasinya dengan memberi peringatan kepada hadirin, mulai dari para pemimpin hingga pengembang, bahwa AI bukanlah "tongkat ajaib." Sebaliknya, ia menggambarkan AI sebagai alat yang harus digunakan dengan hati-hati, seperti pisau bedah, yang perlu diterapkan dengan cermat untuk menghindari kesalahan.
Ia menyoroti pentingnya mengidentifikasi masalah bisnis sebelum mencari solusi melalui teknologi. Banyak organisasi, katanya, masih bergantung pada alat tradisional seperti lembar Excel, yang menghalangi mereka dari adopsi penuh terhadap teknologi digital.
Menavigasi Arsitektur Multi-Agent dalam AI
Victoria juga membahas tantangan yang dihadapi dalam membangun sistem AI yang kompleks, seperti arsitektur agen sekuensial dan perutean, serta model yang lebih maju, termasuk agen otonom. Meskipun teknologi ini menjanjikan, dia menekankan bahwa skalabilitas tetap menjadi tantangan besar, dan pengembangan AI masih dalam tahap "perbaikan kerusakan."
Membangun AI yang Bertanggung Jawab: Fokus pada Memori dan Data
Saat berbicara tentang arsitektur multi-agent yang diterapkan di TAAP, Victoria menyoroti masalah penting yang terus berlanjut, seperti fragmentasi memori dan halusinasi data. Ia mengingatkan para profesional AI bahwa fondasi data yang baik adalah kunci sukses dalam membangun sistem AI yang efektif dan akurat. Tanpa perbaikan pada fondasi data, AI hanya akan menghasilkan kesalahan dan informasi yang salah.
Victoria juga mengungkapkan tantangan yang muncul saat menggunakan berbagai model AI seperti Gemini, Grok, dan OpenAI untuk tugas yang berbeda, dan bagaimana memilih model yang tepat harus didasarkan pada niat, bukan sensasi teknologi terbaru.
Masa Depan AI: Berpikir Bersama, Bukan untuk Kita
Di bagian akhir pembicaraannya, Victoria membawa audiens pada pertanyaan filosofis yang mendalam tentang masa depan AI. Ia merujuk pada pertanyaan terkenal Bill Joy, "Apakah masa depan masih membutuhkan manusia?" dan mengajak hadirin untuk berpikir lebih jauh tentang peran manusia dalam dunia yang semakin didominasi oleh AI.
baca Juga:LLDIKTI Wilayah II Dorong Lulusan Teknokrat Ciptakan Peluang Di Tengah Tantangan Global
Victoria menegaskan bahwa kita tidak perlu agen yang lebih cerdas, melainkan sistem yang bisa berpikir bersama kita, memahami nilai-nilai kemanusiaan, dan bekerja dengan kita untuk masa depan yang lebih baik. Ia menyimpulkan bahwa jika kita dapat membangun kecerdasan buatan dengan etika, batasan, dan tujuan yang jelas, maka kita dapat menciptakan sesuatu yang akan mengubah dunia.
penulis:Dafa Aditya.f