Logo Universitas Teknokrat Indonesia

Tiongkok Peringatkan Risiko Teknologi Biometrik: Ancaman Privasi Makin Nyata

Kategori: Uncategorized
Gambar untuk Tiongkok Peringatkan Risiko Teknologi Biometrik: Ancaman Privasi Makin Nyata

Teknologi biometrik memang membawa kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari membuka ponsel hingga sistem keamanan gedung. Namun, Kementerian Keamanan Nasional Tiongkok (MSS) mengeluarkan peringatan serius tentang risiko besar yang tersembunyi di balik kenyamanan tersebut, terutama terkait dengan keamanan data dan privasi pengguna.


Apa Saja Ancaman dari Teknologi Biometrik?

MSS menyoroti bahwa teknologi seperti pengenalan wajah, pemindaian iris mata, dan pemindaian sidik jari kian banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, jika pengelolaan datanya tidak dilakukan secara benar, potensi kebocoran data pribadi bisa sangat besar.

"Sistem biometrik memang memudahkan, tetapi juga sangat rentan terhadap penyalahgunaan jika tidak diamankan dengan baik," tulis pernyataan resmi kementerian.

Baca juga : Stop Bingung! Ini Cara Simpel Bikin DFD Akurat


Mengapa Data Biometrik Sangat Sensitif?

Berbeda dengan password atau nomor PIN yang bisa diganti, data biometrik seperti wajah dan iris mata bersifat permanen. Sekali bocor, data ini tidak dapat diperbarui. Artinya, jika jatuh ke tangan yang salah, dampaknya bisa berlangsung seumur hidup.

Beberapa risiko serius yang disebutkan oleh MSS meliputi:

  • Penyalahgunaan data untuk spionase atau penyamaran
  • Pencurian identitas secara digital
  • Akses ilegal ke sistem atau fasilitas penting
  • Potensi pengawasan massal oleh pihak asing

Bagaimana Penyalahgunaan Data Ini Bisa Terjadi?

MSS memberi contoh bahwa ada proyek-proyek tertentu—termasuk yang terlibat dalam distribusi kripto—yang diduga mengumpulkan data iris pengguna secara global dengan iming-iming hadiah token digital. Praktik semacam ini dinilai sangat berisiko karena data biometrik dikirim ke luar negeri dan disimpan di server yang tidak jelas keamanannya.

Meski tidak disebut secara eksplisit, banyak pihak meyakini ini merupakan sindiran terhadap proyek berbasis kripto seperti Worldcoin yang melakukan pemindaian iris untuk tujuan verifikasi identitas dan distribusi token.

Baca juga : Universitas Teknokrat Indonesia Diakui LLDikti sebagai Pencetak SDM Berkualitas


Apakah Penggunaan Teknologi Ini Masih Aman?

Pertanyaan penting yang muncul: Apakah teknologi biometrik masih aman digunakan?

Jawabannya bergantung pada tiga hal utama:

  1. Siapa yang mengelola data tersebut?
  2. Seberapa transparan kebijakan privasinya?
  3. Apakah sistem keamanannya telah terverifikasi dan bersertifikat?

MSS mendorong pengguna untuk lebih hati-hati dan selektif dalam memberikan informasi biometrik mereka, terutama kepada aplikasi, layanan, atau proyek yang tidak memiliki rekam jejak keamanan yang jelas.


Apa Langkah Pencegahan yang Bisa Diambil?

Untuk menjaga keamanan data biometrik pribadi, pengguna disarankan untuk:

  • Menghindari pemindaian wajah atau iris oleh pihak tidak resmi
  • Membaca kebijakan privasi sebelum menyetujui syarat layanan
  • Tidak mudah tergiur imbalan digital sebagai ganti data pribadi
  • Menggunakan sistem keamanan ganda (multi-factor authentication)

Sementara itu, pemerintah dan penyedia layanan digital juga dituntut untuk meningkatkan transparansi serta membangun sistem penyimpanan data yang memenuhi standar keamanan tinggi.

Penulis : aqilah az-zahra