Logo Universitas Teknokrat Indonesia

Tiongkok Waspadai Pemindaian Iris oleh Proyek Kripto, Ancam Keamanan Nasional

Kategori: Uncategorized
Gambar untuk Tiongkok Waspadai Pemindaian Iris oleh Proyek Kripto, Ancam Keamanan Nasional

Tiongkok kembali mengingatkan bahaya dari penyalahgunaan data biometrik oleh proyek-proyek kripto global, terutama yang menggunakan pemindaian iris mata sebagai bagian dari distribusi aset digital. Kementerian Keamanan Negara (MSS) menilai praktik semacam itu dapat membahayakan privasi pribadi hingga mengganggu keamanan nasional.


Apa Bahaya dari Penggunaan Data Biometrik?

Dalam buletin keamanan yang dirilis secara resmi, otoritas Tiongkok memaparkan sejumlah risiko dari teknologi pengenalan biometrik, termasuk:

  • Pemindaian wajah
  • Pemindaian sidik jari
  • Pemindaian iris mata

MSS secara khusus menyoroti satu perusahaan asing yang tidak disebutkan namanya, yang mengumpulkan data biometrik dengan iming-iming pemberian token kripto. Perusahaan itu diduga memindai dan menyimpan data iris pengguna secara global untuk kemudian mentransfer data tersebut ke server eksternal.

Meskipun tidak menyebut nama secara langsung, banyak pihak meyakini pernyataan ini merujuk pada proyek Worldcoin milik Sam Altman, yang diketahui telah melakukan pemindaian iris untuk verifikasi identitas dan mendistribusikan token digital bernama WLD.

Baca juga : PHP vs JavaScript: Mana yang Lebih Cocok untukmu?


Kenapa Data Iris Mata Sangat Sensitif?

MSS menegaskan bahwa pengenalan iris adalah metode verifikasi yang sangat presisi, dan banyak digunakan di lokasi-lokasi sensitif, termasuk fasilitas pemerintah atau militer. Namun, di balik kepraktisannya, data iris bersifat tidak dapat diperbarui jika bocor atau diretas.

“Begitu data iris bocor, kita tidak bisa menggantinya seperti mengganti kata sandi,” tulis buletin tersebut.

Selain iris, pengenalan wajah juga dinilai sebagai teknologi rawan kebocoran. Penyimpanan yang tidak aman bisa menyebabkan data disalahgunakan, misalnya oleh badan intelijen asing untuk menyamar atau melakukan infiltrasi ke sistem penting.


Apakah Kemudahan Teknologi Seimbang dengan Keamanan?

Otoritas Tiongkok mengakui bahwa teknologi identifikasi biometrik memang memberi kemudahan, namun pengguna wajib memahami risikonya. Memberikan data biometrik secara sembarangan bisa membuka celah besar dalam hal:

  • Kebocoran informasi pribadi
  • Pengawasan massal oleh entitas asing
  • Serangan siber yang menargetkan data sensitif

Pejabat keamanan pun mengingatkan bahwa teknologi semestinya tidak hanya difokuskan pada efisiensi dan kenyamanan, tetapi juga perlu menjaga aspek perlindungan identitas pengguna.

Baca juga : Universitas Teknokrat Indonesia Kukuhkan Wisudawan, LLDIKTI Tekankan Profesionalisme dan Kemandirian


Adakah Solusi Alternatif untuk Identitas Digital?

Menanggapi maraknya isu keamanan identitas digital, Vitalik Buterin, salah satu pendiri Ethereum, sempat mengusulkan model identitas pluralistik sebagai solusi jangka panjang. Dalam konsep ini, identitas seseorang tidak bergantung pada satu sumber saja, melainkan merupakan kombinasi dari:

  • Data pemerintah
  • Jaringan sosial
  • Sistem berbasis komunitas

Model pluralistik bertujuan mencegah dominasi satu entitas dalam verifikasi identitas. Selain itu, Buterin juga menolak metode “proof of wealth” atau bukti kekayaan, karena dianggap mendiskriminasi masyarakat ekonomi bawah dan merusak prinsip inklusivitas.


Penulis : aqilah az-zahra