UEFA, badan pengatur sepak bola Eropa, telah melarang lima klub berkompetisi di Liga Champions akibat berbagai pelanggaran yang mereka lakukan. Liga Champions UEFA, yang dianggap sebagai trofi paling bergengsi dalam sepak bola klub, terus menjadi ajang impian bagi klub-klub besar Eropa. Namun, beberapa klub harus menerima kenyataan pahit karena telah melanggar peraturan yang ditetapkan oleh UEFA.
Klub yang Dilarang Karena Pengaturan Pertandingan
- Besiktas (2013)
Raksasa Turki, Besiktas, dilarang berkompetisi di kompetisi UEFA pada tahun 2013 setelah terbukti terlibat dalam pengaturan pertandingan. Larangan satu tahun tersebut diperkuat oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), yang menolak banding mereka. - Fenerbahce (2013)
Klub Istanbul lainnya, Fenerbahce, juga menerima larangan tiga tahun dari UEFA pada 2013 karena dugaan pengaturan pertandingan. Seperti Besiktas, Fenerbahce juga kalah dalam banding di CAS. - Juventus (2023/24)
Raksasa Serie A, Juventus, dijatuhi larangan berkompetisi di UEFA untuk musim 2023/24 setelah dinyatakan bersalah melanggar aturan Financial Fair Play (FFP) antara tahun 2012 hingga 2019. Kasus ini menunjukkan bahwa bahkan klub-klub besar sekalipun tidak kebal terhadap sanksi UEFA.
Larangan Akibat Pelanggaran Lain
- FK Pobeda (2009)
Pada tahun 2009, klub asal Makedonia Utara, FK Pobeda, dijatuhi larangan delapan tahun dari UEFA karena pengaturan pertandingan. Larangan ini juga diperkuat oleh CAS, dan Aleksandar Zabrcanec, presiden klub saat itu, dijatuhi larangan seumur hidup dari UEFA. - FK Arsenal Tivat (2025)
Baru-baru ini, pada Juli 2025, klub asal Montenegro, FK Arsenal Tivat, dilarang berkompetisi di kompetisi Eropa selama sepuluh tahun dan dikenakan denda €500,000. Penyebabnya adalah dugaan pelanggaran Peraturan Disiplin UEFA dalam pertandingan antara Alashkert FC dan FK Arsenal Tivat pada Juli 2023.
Larangan Akibat Kejadian Tragis
- Bencana Stadion Heysel (1985)
Klub-klub Inggris pernah dilarang berkompetisi di Eropa selama lima tahun setelah tragedi di Stadion Heysel pada tahun 1985, yang mengakibatkan kematian 39 orang dalam final Piala Eropa antara Juventus dan Liverpool. Liverpool sendiri mendapat tambahan larangan satu tahun hingga 1991. Tragedi ini menjadi pengingat penting akan pentingnya keselamatan dan integritas dalam sepak bola.
Peringatan dari UEFA
Larangan-larangan yang dijatuhkan oleh UEFA bukan hanya hukuman bagi klub-klub tersebut, tetapi juga sebagai peringatan bagi klub-klub lain untuk mematuhi aturan dan regulasi yang ditetapkan oleh UEFA. Langkah tegas ini menunjukkan bahwa UEFA tidak akan ragu mengambil tindakan untuk menjaga integritas dan reputasi Liga Champions sebagai kompetisi klub paling bergengsi di dunia.
Baca juga: Monitor Kerja Ideal: Produktivitas Meroket, Mata Tetap Nyaman!
Dengan ketatnya pengawasan dan regulasi, UEFA berusaha memastikan bahwa Liga Champions tetap menjadi ajang yang fair, aman, dan penuh integritas, tanpa adanya campur tangan dari pihak-pihak yang berusaha merusak reputasinya.
Penulis: Kayla Maharani