Anime Gachiakuta menjadi salah satu serial yang banyak diperbincangkan pada musim panas 2025 ini. Ceritanya berfokus pada perjalanan Rudo, seorang anak yang dibuang ke dunia bawah tanah tempat sampah dibuang, dan bergabung dengan kelompok tertentu sambil mencari cara untuk kembali ke dunia asalnya dan membalas dendam. Anime ini berhasil menarik perhatian berkat cerita yang unik dan tema sosial yang diangkat. Berikut adalah enam fakta menarik tentang anime Gachiakuta yang wajib kamu ketahui!
Baca juga :Kekalahan 7-0 dari Seattle Sounders, Media Meksiko Hujani Kritik untuk Cruz Azul di Leagues Cup
1. Diadaptasi dari Manga Dark Fantasy Karya Kei Urana
Anime Gachiakuta diadaptasi dari manga shounen yang ditulis dan diilustrasikan oleh Kei Urana. Mengusung genre aksi, dark fantasy, dan dystopia, manga ini pertama kali terbit pada 16 Februari 2022 di Weekly Shonen Magazine milik Kodansha. Sampai Juni 2025, manga ini telah mengumpulkan 15 volume tankobon dan mencapai bab 144, dengan cerita yang terus berlanjut.
2. Adaptasi Anime oleh Studio Bones
Anime Gachiakuta diadaptasi dan diproduksi oleh studio Bones, yang terkenal dengan karyanya seperti My Hero Academia dan Mob Psycho 100. Pengumuman adaptasi anime ini dilakukan pada Juni 2024 melalui key visual dan teaser video. Fumihiko Shimo ditunjuk sebagai sutradara, sementara Hiroshi Seko bertanggung jawab atas penulisan naskah. Satoshi Ishino mendesain karakter, dan Taku Iwasaki mengkomposisi musik untuk anime ini.
Anime ini juga menggandeng beberapa seiyuu terkenal, seperti Aoi Ichikawa sebagai Rudo, Katsuyuki Konishi sebagai Enjin, dan Yoshitsugu Matsuoka sebagai Zanka, yang semakin memperkaya kualitas animasi dan akting suara.
3. Eksplorasi Dunia Distopia dan Tema Sosial yang Mendalam
Gachiakuta mengajak penonton untuk mengeksplorasi dunia distopia yang dikenal sebagai Sphere, sebuah pulau terapung tempat orang-orang dikelompokkan dalam dua kelas sosial: kelas elit dan suku yang tinggal di permukiman kumuh. Cerita ini menggambarkan diskriminasi sosial yang terjadi, di mana orang-orang elit memandang rendah orang dari suku kumuh. Selain itu, ada jurang besar yang dikenal sebagai Dunia Bawah, tempat pembuangan sampah dan pengasingan orang-orang yang dianggap bersalah.
Dunia yang terbagi dengan jelas ini memberikan gambaran yang kuat tentang ketimpangan sosial yang terjadi dalam cerita.
4. Terinspirasi dari Pengalaman Masa Kecil Kei Urana
Kei Urana, pencipta Gachiakuta, mengungkapkan bahwa ia terinspirasi dari pengalaman masa kecilnya sendiri saat menciptakan cerita ini. Urana mengingatkan sebuah pengalaman ketika ia mematahkan pena kesayangannya dan merasa seakan-akan pena itu memohon untuk tidak dihancurkan. Pengalaman emosional inilah yang mendorongnya untuk mengembangkan Gachiakuta, di mana objek yang dianggap tak berguna seperti sampah bisa memiliki makna dan nilai lebih.
5. Desain Grafiti oleh Andou Hideyoshi
Selain Kei Urana yang bertindak sebagai ilustrator utama, manga Gachiakuta juga menyertakan desain grafiti karya Andou Hideyoshi. Grafiti sebagai seni jalanan memberikan ruang bagi ekspresi bebas, dan dalam Gachiakuta, grafiti berfungsi sebagai elemen naratif yang memperkaya dunia cerita. Desain grafiti ini menambah kedalaman dan makna dalam setiap adegan yang ada.
Baca juga :Wisuda Periode I 2025 Universitas Teknokrat: Cetak Generasi Siap Sambut Indonesia Emas
6. Konsep Kekuatan yang Mirip dengan The Law of Ueki
Salah satu konsep kekuatan unik dalam Gachiakuta adalah kemampuan para karakter untuk memanfaatkan benda mati yang dianggap sampah, namun memiliki nilai dan kekuatan yang luar biasa. Rudo, misalnya, menggunakan sampah di sekitarnya sebagai senjata untuk melawan hewan bernoda. Konsep kekuatan ini mengingatkan penggemar pada serial The Law of Ueki, di mana karakter utama memiliki kemampuan untuk mengubah sampah menjadi pohon.
Penulis : Naysila pramuditha azh zahra