Logo Universitas Teknokrat Indonesia

Katai Putih Ini Bergabung dengan Bintang Lain dan Membentuk Katai Putih Ultra-Masif

Kategori: Sains
Gambar untuk Katai Putih Ini Bergabung dengan Bintang Lain dan Membentuk Katai Putih Ultra-Masif

Katai putih merupakan sisa bintang deret utama seperti Matahari yang telah kehabisan bahan bakar hidrogen dan berhenti berfusi. Mereka tetap panas dan bercahaya selama triliunan tahun, menjadikannya salah satu objek paling tahan lama di alam semesta. Sekitar 97% bintang di alam semesta diperkirakan akan berakhir sebagai katai putih, sehingga studi tentang mereka sangat penting untuk memahami evolusi bintang.

baca juga:8 Barang Wajib Super Hemat di Bawah Rp50 Ribu


Apa Itu Katai Putih dan Batas Massanya?

Katai putih biasanya memiliki inti karbon dan oksigen dengan lapisan atmosfer yang didominasi oleh hidrogen atau helium. Batas Chandrasekhar menetapkan massa maksimum katai putih sekitar 1,44 kali massa Matahari. Jika massa melebihi batas ini, katai putih tidak dapat menopang dirinya dan akan meledak menjadi supernova atau runtuh menjadi bintang neutron.

Sebagian besar katai putih memiliki massa di bawah batas ini, namun ada yang bermassa tinggi, seperti WD 0525+526 yang memiliki massa 20% lebih besar dari Matahari dan berjarak sekitar 130 tahun cahaya dari Bumi. Penelitian terbaru mengungkap bahwa katai putih ini adalah hasil penggabungan dua bintang.


Penemuan Baru Berbasis Data Ultraviolet Hubble

Penelitian berjudul “Sisa Penggabungan Katai Putih Panas yang Terungkap melalui Deteksi Ultraviolet Karbon” yang diterbitkan di Nature Astronomy oleh Dr. Snehalata Snahu dan tim dari Universitas Warwick menggunakan data ultraviolet dari Teleskop Luar Angkasa Hubble untuk mengungkap jejak karbon di atmosfer WD 0525+526 yang sebelumnya tidak terlihat lewat cahaya optik.


Karakteristik Unik WD 0525+526

WD 0525+526 memiliki atmosfer dominan hidrogen dengan jejak karbon sangat sedikit yang kemungkinan berasal dari inti bintang. Kondisi ini berbeda dari katai putih biasa yang biasanya memiliki karbon dan oksigen di inti serta lapisan hidrogen dan helium tebal. Lapisan hidrogen dan helium pada WD 0525+526 diperkirakan sepuluh miliar kali lebih tipis akibat proses penggabungan bintang.


Proses Penggabungan dan Semi-Konveksi

Saat dua katai putih bergabung, lapisan luar hidrogen dan helium hampir terbakar habis sehingga karbon dapat naik ke permukaan. Namun karbon yang muncul di permukaan WD 0525+526 jauh lebih sedikit dibandingkan katai putih hasil penggabungan lain yang lebih dingin. Ini diduga akibat proses pencampuran semi-konveksi, yaitu perpindahan bahan secara parsial dan lebih lambat dibandingkan konveksi biasa.


Pentingnya Spektroskopi Ultraviolet

Spektroskopi ultraviolet sangat penting untuk mendeteksi karbon dalam katai putih panas ini karena spektrum optik tidak cukup sensitif. Pengamatan ini hanya bisa dilakukan dari luar angkasa dan saat ini hanya teleskop Hubble yang memiliki kemampuan tersebut.

baca juga:Wakil Rektor Teknokrat Mahathir Muhammad, Di Balik Layar Reuni Akbar


Menolak Hipotesis Lain tentang Asal Karbon

Para peneliti juga mempertimbangkan kemungkinan lain seperti akresi material dari lingkungan sekitar atau benda langit lain, tetapi tidak menemukan unsur berat selain karbon yang seharusnya muncul jika ini benar. Oleh karena itu, hipotesis penggabungan katai putih dianggap paling masuk akal.

penulis:dafa aditiya.f