Logo Universitas Teknokrat Indonesia

Penghapusan Referensi Pemakzulan Trump dari Museum Smithsonian Picu Perdebatan Sejarah dan Kekuasaan

Kategori: Uncategorized
Gambar untuk Penghapusan Referensi Pemakzulan Trump dari Museum Smithsonian Picu Perdebatan Sejarah dan Kekuasaan

Ketika Sejarah Menjadi Alat Narasi, Bukan Sekadar Dokumentasi

Apa yang tampaknya sederhana — sebuah peristiwa terjadi lalu dicatat dalam sejarah — ternyata tidak sesederhana itu, terutama bila menyangkut pemimpin negara. Terbaru, Museum Nasional Sejarah Amerika yang berada di bawah Smithsonian Institution menghapus referensi tentang dua kali pemakzulan Presiden Donald Trump (2019 dan 2021) dari panel dalam pameran tentang kepresidenan.

baca:Prediksi Final WTA Montreal 2025: Victoria Mboko vs Naomi Osaka

Smithsonian Bantah Ada Tekanan Langsung, Janji Revisi Pameran

Pihak Smithsonian menyatakan bahwa pencabutan panel tersebut bukan karena tekanan dari pemerintah Trump. Panel itu merupakan bagian dari penambahan sementara pada 2021, dan museum mengatakan bahwa pameran akan diperbarui dalam beberapa minggu ke depan untuk mencakup seluruh proses pemakzulan presiden AS.

Namun, penghapusan ini memunculkan pertanyaan lebih besar: Apakah tujuan sejarah untuk mencerminkan kejadian nyata atau membentuk narasi tertentu?

Konteks Politik: Upaya Mengontrol Cerita Amerika

Penghapusan referensi ini menjadi bagian dari pola yang lebih luas oleh pemerintahan Trump untuk membentuk citra nasional yang menonjolkan prestasi dan menghindari hal-hal yang dianggap “memecah belah.”

Contoh lain termasuk penghapusan nama aktivis hak LGBTQ dari kapal Angkatan Laut, upaya defunding terhadap Corporation for Public Broadcasting, serta perombakan kepemimpinan di Kennedy Center.

Sejarawan Sebut Ini Strategi Mempengaruhi Ingatan Kolektif

Julian E. Zelizer, profesor sejarah dari Princeton University, menilai bahwa Trump mencoba mengarahkan bagaimana sejarah diceritakan di museum, taman nasional, dan sekolah, terutama mengenai perannya sendiri dalam sejarah Amerika.

Politik dan Sejarah: Perebutan Kendali atas Ingatan Publik

Mengontrol bagaimana suatu peristiwa dikenang telah lama menjadi alat kekuasaan. Contoh ekstrem bisa dilihat di China, di mana tragedi Tiananmen 1989 dihapus dari ruang publik, atau era Soviet di mana tokoh yang tak sejalan dengan penguasa dihapus dari foto dan buku sejarah.

Menurut ahli otoritarianisme Jason Stanley, penguasa sering mengontrol narasi sejarah untuk menopang kekuasaan. “Jika mereka tak mengendalikan sejarah, maka mereka tak bisa membangun narasi palsu yang mendukung politik mereka,” katanya.

Bagaimana Sejarah Disampaikan Itu Penting

Dalam sejarah Amerika, presiden dan keluarganya telah lama mencoba mengontrol citra mereka. Dari Jackie Kennedy yang mengubah buku soal kematian suaminya, hingga Ronald Reagan yang membentuk dokumentasi khusus demi citra tertentu.

Namun, Trump dianggap membawa hal ini ke level yang lebih ekstrem, menciptakan atmosfer di mana lembaga publik merasa harus memilih antara kebenaran atau loyalitas terhadap presiden.

Sejarah Membantu Kita Memahami Identitas Bangsa

Menurut Robin Wagner-Pacifici, profesor emerita sosiologi di New School, pameran sejarah dan monumen berperan penting dalam membantu masyarakat memahami posisi mereka dalam sejarah. “Tanpa narasi sejarah, sulit bagi kita untuk melihat diri kita sebagai bagian dari waktu,” katanya.

Mantan Direktur Museum Nixon: Ini Harusnya Jadi Garis Merah

Timothy Naftali, mantan direktur Perpustakaan dan Museum Presiden Nixon, menyebut penghapusan panel pemakzulan Trump sebagai tindakan yang “mengkhawatirkan dan mengecewakan.” Ia menyebut bahwa direktur museum harus memiliki “garis merah” yang tidak boleh dilanggar — dan ini adalah salah satunya.

Naftali mengingatkan bahwa objektivitas dalam museum bukanlah hal yang bisa dikompromikan demi kepentingan politik.

baca:‎Rektor Universitas Teknokrat Hadiri Munas APTISI VII di Bandung, Bahas Transformasi PTS untuk Indonesia Emas

Legitimasi Kekuasaan Butuh Validasi Terus-Menerus

Meski kekuasaan tampak stabil, tokoh seperti Trump menunjukkan bahwa legitimasi politik harus selalu diperkuat, termasuk lewat kontrol atas narasi sejarah. Seperti yang dikatakan Wagner-Pacifici: “Kekuatan pemimpin tidak pernah bisa hanya bergantung pada reputasi masa lalu. Mereka harus terus-menerus menciptakan kembali legitimasi mereka.”

penulis: inziria